Wakil Menteri Agama RI hadiri Ulang Tahun Pondok Modern Gontor yang ke-100
PONOROGO — Di hadapan ribuan kiai, santri, dan tamu undangan yang memadati Pondok Modern Darussalam Gontor pada Sabtu, 20 Juni 2026, Wakil Menteri Agama Romo Muhammad Syafi’i menyampaikan dua pesan yang seolah berdiri di dua kutub: sebuah pujian, dan sebuah peringatan.
Pujiannya jelas. Memasuki usia satu abad, Gontor disebutnya sebagai salah satu pesantren paling berpengaruh di Indonesia — sebuah nama yang, menurut pengalamannya, kerap menjadi jawaban pertama orang asing ketika diajak bicara soal pesantren Indonesia. Gontor dan Indonesia, ujarnya, sudah menjadi dua hal yang sulit dipisahkan. Ke depan, ia berharap Gontor tak lagi berhenti pada level nasional, melainkan ikut membangun peradaban yang, dalam keyakinannya, akan mendunia.
Namun di forum yang sama — Sarasehan Kiai Pesantren Nasional, salah satu agenda rangkaian peringatan 100 Tahun Gontor — Wamenag tak menyembunyikan keprihatinannya. Ia menyebut adanya kelompok yang, menurut pengamatannya, bekerja secara sistematis menurunkan kepercayaan orang tua untuk memasukkan anak ke pesantren. Setiap musim penerimaan santri baru, katanya, narasi negatif kerap bermunculan dan berdampak pada turunnya jumlah pendaftar. Kementerian Agama, ia menambahkan, tengah menyusun skema untuk menghentikan narasi itu tanpa menurunkan marwah pesantren.
Dua pesan itu — apresiasi atas capaian dan peringatan atas tantangan — barangkali justru menjadi potret paling jujur tentang posisi Gontor saat genap berusia seratus tahun.
Seratus Tahun, dan Sebuah Penegasan
Gontor berdiri pada 1926 di Desa Gontor, Kecamatan Mlarak, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur. Seabad kemudian, pesantren yang dirintis tiga bersaudara — yang dikenal sebagai Trimurti — itu telah melewati hampir seluruh fase besar sejarah bangsa: dari masa menjelang kemerdekaan hingga era keterhubungan global hari ini.
Pengakuan dari pemerintah pun mengalir hingga ke level tertinggi. Dalam sambutannya, Romo Syafi’i menyampaikan salam dan apresiasi Presiden Prabowo Subianto, yang menilai ketahanan Gontor selama seabad sebagai bukti konsistensi menjaga nilai keikhlasan, kemandirian, dan pengabdian kepada masyarakat.
Bagi Gontor sendiri, pengakuan semacam itu bukan hal baru — dan justru di situlah pimpinan pondok memilih menahan diri dari euforia. Salah satu pimpinan PMDG (Pondok Modern Darussalam Gontor) KH Hasan Abdullah Sahal, berkali-kali menegaskan bahwa seabad Gontor bukanlah pesta perayaan, melainkan peringatan untuk mengenang perjuangan para pendiri dan mensyukuri perjalanan panjang lembaga. Di Gontor, katanya, tidak ada satu detik pun yang tidak diperuntukkan bagi pendidikan.
Satu Abad yang Dirayakan dalam Berbagai Bahasa
Yang membedakan peringatan seabad Gontor dari seremoni kelembagaan pada umumnya adalah keluasan medianya. Rangkaian acara membentang sepanjang Mei hingga September 2026 dan menyentuh hampir setiap bidang kehidupan.
Olahraga membuka jalan. Turnamen Super Copa 100 Tahun Gontor bergulir sejak akhir Mei, lengkap dengan laga ekshibisi Gontor FC melawan Timnas All Star yang diperkuat sejumlah nama beken sepak bola nasional. Lalu datang giliran budaya: pagelaran wayang kulit pada 6 Juni menghadirkan dalang muda Ki Bayu Aji, putra maestro Ki Anom Suroto — sebuah isyarat keterbukaan pesantren terhadap warisan tradisi Jawa.
Dimensi spiritual mencapai puncaknya pada Tabligh Akbar 8 Juni, yang menurut laporan Antara dipadati ribuan jamaah dan menghadirkan deretan dai nasional, di antaranya Ustaz Abdul Somad dan Ustaz Das’ad Latif. Sepekan berselang, fokus bergeser ke ekonomi lewat forum bisnis alumni, dan ke pelayanan publik melalui program kesehatan untuk warga sekitar.
Skala keterlibatan itu menunjukkan sesuatu yang jarang dimiliki lembaga pendidikan lain di Indonesia: kemampuan menggerakkan jaringan alumni lintas generasi secara serentak, dengan disiplin organisasi yang konsisten dari satu masa ke masa berikutnya.
Pesantren sebagai Aktor Publik
Kehadiran seorang wakil menteri yang membuka forum kiai, sorotan dari Istana, dan liputan media arus utama menandai pergeseran yang lebih besar. Gontor kini diposisikan bukan semata ruang pendidikan keagamaan, melainkan aktor sosial yang ikut membentuk wacana kebangsaan.
Wamenag bahkan mendorong pesantren melangkah lebih jauh: tak hanya mencetak ulama dan kiai, tetapi juga menyiapkan pemimpin yang berintegritas. Indonesia, katanya, tidak kekurangan orang pintar — yang masih dibutuhkan adalah pemimpin yang jujur dan berpihak kepada rakyat. Ia juga mengajak pesantren memperkuat ekonomi umat melalui wakaf produktif serta menguasai teknologi tanpa kehilangan akhlak.
Pesan itu menempatkan Gontor pada peran ganda yang ia jaga sepanjang seabad ini: tradisi yang dirawat lewat jaringan kiai dan disiplin pondok, serta relevansi yang dipelihara melalui keterlibatan aktif dalam ruang publik modern.
Bukan Garis Akhir
Puncak peringatan masih akan datang. Pada September 2026, Gontor menjadwalkan Festival Kaligrafi Nasional, peluncuran Museum Gontor dan Mushaf Gontor, lalu Resepsi Kesyukuran pada 19 September yang disusul Reuni Akbar ribuan alumni sehari setelahnya.
Tetapi angka seratus, bagi institusi sebesar ini, terasa lebih seperti jeda untuk mengukur kekuatan ketimbang sebuah garis akhir. Tantangannya pun sudah disebut terang-terangan oleh Wamenag di hadapan para kiai: mempertahankan prestasi yang telah dibangun selama seabad, sembari menjawab tekanan zaman yang semakin kompleks — termasuk narasi yang berupaya menggerus kepercayaan publik terhadap pesantren itu sendiri.
Dengan legitimasi sosial yang sudah mengakar lintas generasi dan dukungan resmi dari pemerintah, Gontor memasuki abad keduanya bukan sebagai lembaga yang harus membuktikan diri. Ia memasukinya sebagai institusi yang sudah diakui — dan kini ditantang untuk membuktikan bahwa pengakuan itu bisa bertahan.
Disusun oleh Redaksi MEZZALA.id berdasarkan laporan dan keterangan di Pondok Modern Darussalam Gontor. Kutipan pernyataan tokoh dan detail acara Ultang Tahun ke-100 Pondok Modern Gontor per 20–22 Juni 2026.
