Kamis, 20 Agustus 2026 M· Edisi Nasional
Melihat CelahMengisi RuangMembuka Arah
Breaking
IKLANRuang Iklan Atas970×90 Leaderboard

Kilas Balik Coach Justin di Piala Dunia 2022: “Tim Asia Mending Main Badminton”

Coach Justin berdebat soal sepakbola Asia di Youtube DPI Jebretmedia Piala Dunia 2022
Coach Justin berdebat soal sepakbola Asia di Youtube DPI Jebretmedia Piala Dunia 2022

Mezzala.id – Hasil Jepang 4-0 Tunisia di Piala Dunia 2026 sehingga menjadikan dua tim dari negara Asia belum kalah di Piala Dunia 2026. Ada 9 tim negara perwakilan Asia dalam Piala Dunia 2026, memasuki matchday kedua tim Jepang dan tim Iran belum terkalahkan. Jepang yang berada di Grup F bersama Belanda, Swedia, dan Tunisia. 

Kilas balik pernyataan kontroversial Justinus Lhaksana alias Coach Justin yang menjadi sorotan ketika menyebut tim Asia “mending main badminton aja” ketika Piala Dunia 2022. Pernyataan koci (panggilan Coach Justin) saat siaran di kanal YouTube Jebretmedia, tepat setelah Jepang kalah adu penalti dari Kroasia, dan Korea Selatan ditundukkan Brasil.

Momen itu memantik salah satu perdebatan paling tajam sepanjang turnamen: apakah sepak bola Asia benar-benar maju, atau hanya diuntungkan situasi? Dalam program “Dewan Pundit Indonesia (DPI) – Hajatan Bola Dunia” yang dipandu Panji Suryono bersama Aldi Bawazier, Coach Justin menegaskan kembali posisinya yang kerap membuatnya dicap meremehkan Asia.

Coach Justin: “Asia Mending Main Badminton Daripada Main Bola”

“Tim Asia itu tim badminton. Mending main badminton bisa juara, daripada main bola,” kata Coach Justin dalam diskusi tersebut. Ia menegaskan penilaiannya bukan hanya tertuju ke Jepang, melainkan ke seluruh enam wakil AFC di turnamen itu.

IKLANRuang Iklan In-Artikel300×250 / responsif

Bagi Coach Justin, sepak bola di level tertinggi adalah milik dua kawasan. “Sepak bola ke depannya cuma milik Amerika sama Eropa,” ujarnya. Ia menambahkan, kawasan lain — termasuk Timur Tengah yang ia sebut tak kekurangan dana — belum menunjukkan kemajuan setara.

Ia juga keras menilai laga Jepang melawan Kroasia. “This is the worst match yang gua pernah lihat. Dua-dua ini sangat tidak layak lolos,” katanya, sambil menyebut Kroasia hanya diuntungkan grup yang lemah.

Aldi: Apresiasi untuk Jepang

Aldi Bawazier mengambil sikap berbeda. Ia menilai Jepang pantas diapresiasi karena tampil tanpa rasa rendah diri menghadapi tim-tim besar. “Kenapa orang nggak bisa mengapresiasi Jepang?” ujarnya.

Aldi menunjuk hasil di fase grup sebagai bukti: Jepang mengalahkan Jerman dan Spanyol, dua juara dunia, sebelum lolos sebagai juara Grup E. Baginya, kemampuan itu menunjukkan tim Asia tidak sekadar beruntung, tetapi mampu bersaing secara taktis dan mental.

“Gua pribadi sangat bangga dengan raihan Jepang,” kata Aldi. Ia juga menilai perkembangan Jepang nyata jika dilihat lintas turnamen — lolos 16 besar pada 2018 dan kembali ke 16 besar pada 2022 — seiring makin banyaknya pemain Jepang yang merumput di Eropa.

Faktor Keberuntungan dan “Grup Receh”

Coach Justin tetap pada argumennya soal faktor situasional. Ia menyebut Korea Selatan lolos karena keberuntungan undian. “Korea lolos karena lucky-nya gede — di laga terakhir mereka menang di menit 90 lawan Portugal lapis dua, sementara Uruguay ketemu Portugal lapis satu,” katanya.

Menurutnya, hal itu harus diakui apa adanya. “Harus dikatakan bahwa lu beruntung. Jadi jangan dilebih-lebihkan,” ujarnya. Ia juga menilai Kroasia, lawan Jepang, lolos hanya karena berada di grup yang ia sebut “receh”.

Coach Justin berkali-kali menegaskan ia tetap memberi apresiasi. “Gua bukan tidak mengapresiasi. Gua cuma bilang lolosnya karena lucky-nya gede,” katanya, membantah anggapan bahwa ia sepenuhnya merendahkan capaian Asia.

Jepang dan Maroko Memiliki Banyak Pemain Didikan Eropa

Pandangan Coach Justin makin tegas saat membahas Maroko, yang ketika itu melaju jauh. Ia menilai keberhasilan Maroko tak lepas dari latar pembinaan para pemainnya di Eropa. “Pemain Maroko seperti Hakimi itu hampir nggak ada yang lahir di Maroko, lahir di luar semua,” ujarnya.

Bagi Coach Justin, faktor itulah — bukan kemajuan sepak bola lokal — yang membuat Maroko kompetitif. Ia menyebut banyak pemain Maroko lahir, besar, dan bermain di klub-klub Eropa, sehingga “mindset”-nya berbeda dari rata-rata tim Afrika.

Cara pandang yang sama ia pakai untuk Asia dan Maroko: kemajuan sebuah tim lebih ditentukan ekosistem sepak bola Eropa ketimbang kawasan asalnya. Konsistensi argumen inilah yang justru memicu perdebatan soal adil-tidaknya penilaian tersebut. Padahal menurut tim Redaksi Mezzala.id Bahwa pemain Jepang bisa berkompetisi di Liga negara eropa adalah patut diapresiasi, skuad tim Jepang bahkan hampir seluruhnya aktif bermain di klub-klub eropa, begitu juga dengan skuad tim Maroko juga banyak yang bermain di klun-klun eropa. 

Tudingan “Persepsi Ganda” dan Klarifikasi Coach Justin

Sepanjang turnamen, sikap Coach Justin membuatnya dicap sebagian warganet sebagai sosok yang meremehkan Asia. Sebagian menilai ia menerapkan standar berbeda — menyebut keberhasilan Asia sebagai keberuntungan, namun memuji Maroko karena pembinaan Eropa.

Coach Justin membantah tudingan itu. “Bukan gua benci Asia atau apa-apa, kita hanya bicara bola. Jangan dipelintir,” katanya. Ia mengaku kerap dikutip sepotong oleh netizen sehingga terkesan menghina. Tapi kenyataannya memang pembelaan Coach Justin meremehkan sepakbola Asia tidak layak bersaing di Piala Dunia.

Ia menegaskan kritiknya berada di konteks persaingan level dunia, bukan penilaian bahwa sepak bola Asia buruk secara mutlak. “Gua nggak bilang Jepang jelek. Tapi untuk level dunia, mungkin kita nggak hidup lagi untuk bisa mengikuti sampai juara,” ujarnya.

Ujian Tim Asia dan Afrika di Piala Dunia 2026

Empat tahun setelah debat itu, pertanyaannya tetap relevan: apakah sepak bola Asia sudah benar-benar naik level, atau masih bergantung pada faktor situasional? Piala Dunia 2026 dengan format 48 tim menjadi panggung pengujiannya.

Indikator yang layak dipantau bukan sekadar “lolos atau tidak”, melainkan kualitas cara lolosnya — performa yang berulang dan konsisten, bukan sekadar momen kejutan. Pertanyaan serupa berlaku untuk Maroko: mampukah mereka mengulang capaian tanpa selalu dibingkai sebagai “produk pembinaan Eropa”?

Selanjutnya MEZZALA akan menguji argumen Coach Justin dengan data terbaru dari penampilan Jepang dan Maroko di Piala Dunia 2026. Baca juga ulasan sepak bola lainnya di kanal Olahraga MEZZALA. yang membahas tim kuda hitam lainnya seperti Kolombia dan juga Analisis mendalam kegagalan Turki di Piala Dunia 2026.

Bagikan: WhatsApp X Facebook Telegram
✍️ Redaksi Mezzala.id
MEZZALA (mezzala.id), Media Digital Indonesia, Email: redaksi@mezzala.id
IKLANRuang Iklan Bawah970×90 / responsif
🏠Beranda 📰Terkini 🕌Cahaya Islam Premium