Kamis, 20 Agustus 2026 M· Edisi Nasional
Melihat CelahMengisi RuangMembuka Arah
Breaking
IKLANRuang Iklan Atas970×90 Leaderboard

Fenomena Matahari Tepat Di Atas Ka’bah bulan Juli 2026, Kemenag RI Agendakan Gerakan Nasional Indonesia Berkiblat (Rashdul Qiblat)

Redaksi-Mezzala-Koran-Online-Cara-Menentukan-Arah-Kiblat
Redaksi-Mezzala-Koran-Online-Cara-Menentukan-Arah-Kiblat

Mezzala.id – Kementerian Agama (Kemenag) RI ingatkan masyarakat Indonesia untuk memanfaatkan momentum posisi matahari tepat berada di atas Ka’bah. Pada pertengahan bulan ini — Rabu dan Kamis, 15–16 Juli 2026, pukul 16:27 WIB / 17:27 WITA —, bayangan dari benda yang berdiri tegak lurus di mana pun akan menunjukkan arah kiblat secara presisi karena matahari akan berada tepat di atas Ka’bah pada waktu ini. Fenomena falak yang dikenal sebagai Istiwa A’zham (Rashdul Kiblat) ini hanya terjadi dua kali dalam setahun, dan menjadi satu-satunya momen paling akurat untuk memverifikasi arah kiblat untuk shalat tanpa peralatan khusus apa pun.

Kementerian Agama (Kemenag) RI menjadikan momentum ini sebagai program nasional bertajuk Gerakan Indonesia Berkiblat — menargetkan setidaknya 1.448.000 titik verifikasi secara serentak di seluruh Indonesia, mulai dari rumah warga, masjid, musala, hingga pesantren dan kampus. Kemenag bahkan berencana mengajukan rekor ke Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI).

IKLANRuang Iklan In-Artikel300×250 / responsif

Mengapa Arah Kiblat Penting Diverifikasi?

Menghadap kiblat — ke arah Ka’bah di Masjidil Haram, Makkah — adalah syarat sah shalat. Allah SWT berfirman:

“فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ ۚ وَحَيْثُ مَا كُنتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ”

“Palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah wajahmu ke arahnya.”
(QS. Al-Baqarah: 144)

Rasulullah ﷺ juga bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari: “Apabila kamu hendak shalat, sempurnakanlah wudhumu, kemudian menghadaplah ke kiblat, lalu bertakbirlah.” (HR. Bukhari No. 6251 & Muslim No. 912, Shahih)

Perintah menghadap Masjidil Haram bahkan diulang hingga tiga kali dalam Al-Qur’an — QS. Al-Baqarah ayat 144, 149, dan 150 — sebuah penekanan yang menurut para mufassir menandai betapa pentingnya ketentuan ini, terlebih ia menjadi peristiwa nasakh (penghapusan hukum) pertama dalam sejarah Islam.

Baca Juga: Rekomendasi Laptop Harga Rp 7 Juta

Sejarah Singkat: Ketika Kiblat Dipindahkan dari Baitul Maqdis ke Ka’bah

Menariknya, Ka’bah bukanlah kiblat pertama umat Islam. Pada masa awal, kaum Muslimin shalat menghadap Baitul Maqdis (Masjid Al-Aqsha di Yerusalem) selama kurang lebih enam bulan setelah hijrah Nabi ﷺ ke Madinah. Menurut riwayat, sebagian orang menjadikan hal ini bahan cemoohan terhadap kaum Muslimin.

Nabi ﷺ pun kerap menengadahkan wajahnya ke langit, mengharap turunnya wahyu yang memindahkan arah kiblat. Harapan itu dikabulkan melalui turunnya QS. Al-Baqarah ayat 144, yang memerintahkan umat Islam berpaling ke arah Masjidil Haram di Makkah.

Peristiwa perpindahan ini begitu cepat tersebar. Diriwayatkan dari sahabat Anas bin Malik, ketika sekelompok jamaah dari Bani Salamah sedang rukuk pada rakaat kedua shalat Subuh, datang seseorang menyeru bahwa kiblat telah dipindahkan — maka mereka pun serentak berputar menghadap Ka’bah dalam keadaan masih shalat. (HR. Muslim, Shahih)

Atas dasar ayat-ayat dan hadits-hadits inilah para ulama sepakat (ijma’) bahwa menghadap ke arah Ka’bah hukumnya wajib bagi orang yang mengerjakan shalat. Bagi yang berada dekat Ka’bah, wajib menghadap fisik bangunannya (‘ain al-Ka’bah); bagi yang jauh — seperti kita di Indonesia — yang dituntut adalah menghadap ke arah-nya (jihat al-Ka’bah). Di sinilah ketepatan arah menjadi penting.

Dalam praktiknya, banyak masjid dan mushalla terutama yang dibangun puluhan tahun lalu belum pernah diukur dengan metode ilmiah. Penyimpangan beberapa derajat mungkin tidak disadari jamaah, namun dapat membuat shalat menghadap jauh dari arah Ka’bah yang sesungguhnya.

Baca Juga: Wamenag RI: 100 Tahun Usia Gontor, Jaga Marwah Pesantren

Apa Itu Istiwa A’zham?

Istiwa A’zham secara harfiah berarti “kulminasi agung” — momen ketika matahari mencapai titik kulminasi tepat di atas Ka’bah (lintang 21,4° LU). Pada momen ini, hukum optik sederhana berlaku: bayangan benda tegak lurus di mana pun di permukaan bumi akan mengarah lurus ke Ka’bah.

Tidak diperlukan kompas, aplikasi GPS, atau alat ukur mahal. Cukup sinar matahari dan benda apa pun yang bisa berdiri tegak.

Mengapa Cek Kiblat Tidak Cukup Pakai Kompas atau Aplikasi HP?

Menentukan arah kiblat dari lokasi yang jauh dari Makkah sesungguhnya memerlukan ilmu khusus — cabang ilmu falak (astronomi Islam). Sepanjang sejarah, para ahli mengembangkan berbagai alat bantu: mulai dari “kompas Mekkah” yang dilengkapi buku data arah kiblat kota-kota besar dunia, hingga aplikasi modern berbasis trigonometri bola (spherical trigonometry) yang menghitung sudut kiblat dari koordinat lintang-bujur.

Namun setiap alat menyimpan potensi galat. Kajian akademik yang meninjau akurasi kompas Mekkah untuk kota-kota besar di Indonesia — dimuat dalam Journal of Islamic and Law Studies UIN Antasari (2022) — menegaskan bahwa alat semacam ini bergantung pada ketelitian data, kalibrasi, dan keterampilan pemakainya. Kompas magnetik, misalnya, dapat menyimpang akibat pengaruh medan magnet lokal (deklinasi) dan benda logam di sekitarnya.

Keistimewaan Rashdul Kiblat: ia tidak bergantung pada perhitungan, data koordinat, maupun jarum kompas yang bisa melenceng. Ia memakai matahari itu sendiri sebagai penunjuk langsung — sumber acuan yang tidak bisa dimanipulasi medan magnet atau kesalahan input data. Inilah alasan metode ini disebut sebagai salah satu cara paling akurat sekaligus paling sederhana dalam ilmu falak.

Baca Juga: Tips Membeli Mobil Keluarga

3 Langkah Cek Kiblat — 15 atau 16 Juli Pukul 16:27 WIB

Langkah Yang Dilakukan Catatan Penting
① Siapkan Patokan Tancapkan tongkat, pensil, atau benda apa pun yang bisa berdiri tegak lurus di permukaan datar Gunakan lot/bandul jika ada agar benar-benar 90°
② Samakan Jam Pastikan jam HP/arloji akurat sesuai standar BMKG, RRI, atau Telkom Selisih 1–2 menit bisa menggeser akurasi
③ Tandai Bayangan Tepat pukul 16:27 WIB / 17:27 WITA, tandai garis bayangan tongkat di lantai Garis bayangan = arah kiblat yang lurus ke Ka’bah

⚠️ Metode ini hanya berlaku jika langit tidak terhalang awan tebal pada waktu pengamatan. Jika 15 Juli mendung, gunakan kesempatan 16 Juli di jam yang sama.

Bagi yang ingin berpartisipasi dalam Gerakan Indonesia Berkiblat, pendaftaran dilakukan melalui laman resmi Kemenag: indonesiaberkiblat.kemenag.dev

Bertepatan dengan Masuk Bulan Safar: Luruskan Tauhid, Buang Mitos

Momen Rashdul Kiblat kedua jatuh tepat pada 16 Juli 2026 — hari pertama Bulan Safar 1448 H. Ini bukan kebetulan yang perlu dilebih-lebihkan secara mistis, tapi justru menjadi pengingat akan pentingnya meluruskan pemahaman tentang bulan ini.

Sejak era Jahiliyah, masyarakat Arab pra-Islam mempercayai Safar sebagai bulan pembawa sial — bulan di mana wabah menyebar, pernikahan tidak boleh dilangsungkan, dan perjalanan pantang dilakukan. Kepercayaan ini terwarisi ke berbagai tradisi, termasuk sebagian komunitas Muslim di Nusantara yang mengenal ritual “Rebo Wekasan” di akhir Safar sebagai penolak bala.

Rasulullah ﷺ secara eksplisit menepis semua itu:

“لَا عَدْوَى وَلَا طِيَرَةَ وَلَا هَامَةَ وَلَا صَفَرَ”

“Tidak ada penularan penyakit (yang terjadi dengan sendirinya tanpa izin Allah), tidak ada thiyarah (kesialan dari pertanda buruk), tidak ada hamah (burung pembawa sial), dan tidak ada (kesialan) bulan Safar.”
(HR. Bukhari No. 5707 & Muslim No. 2220, Shahih)

Hadits ini adalah salah satu dalil paling tegas dalam Islam bahwa tidak ada satu pun bulan, hari, angka, atau pertanda alam yang memiliki kekuatan mendatangkan celaka atau keberuntungan secara mandiri. Semua adalah kehendak Allah ﷻ semata.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan para ulama Ahlussunnah wal Jamaah sepakat: meyakini bulan Safar sebagai bulan sial adalah kepercayaan yang tidak memiliki dasar syariat dan berpotensi menggerus kemurnian tauhid.

Bulan Safar — seperti seluruh bulan dalam kalender Hijriah — adalah ciptaan Allah yang netral. Ia menjadi baik atau buruk hanya berdasarkan amal yang kita kerjakan di dalamnya, bukan berdasarkan nama atau urutannya.

2 Pesan Penting di Bulan Juli 2026

Tanggal 15–16 Juli 2026 menawarkan dua pelajaran sekaligus bagi umat Islam Indonesia:

  1. Luruskan kiblat shalat — manfaatkan bayangan matahari pukul 16:27 WIB untuk memastikan arah ibadah shalat yang selama ini jika mungkin belum pernah terverifikasi secara ilmiah.
  2. Luruskan keyakinan — sambut Safar bukan dengan ketakutan atau ritual penolak bala yang tidak berdalil, tapi dengan memperbanyak amal salih dan tawakkal kepada Allah ﷻ.

Keduanya bermuara pada satu prinsip: menghadap Allah dengan lurus — baik arah badannya maupun arah hatinya.

Baca Juga: Tips Memilih Gamis Wanita

Bagikan: WhatsApp X Facebook Telegram
✍️ Redaksi Mezzala.id
MEZZALA (mezzala.id), Media Digital Indonesia, Email: redaksi@mezzala.id
IKLANRuang Iklan Bawah970×90 / responsif
🏠Beranda 📰Terkini 🕌Cahaya Islam Premium