Kamis, 20 Agustus 2026 M· Edisi Nasional
Melihat CelahMengisi RuangMembuka Arah
Breaking
IKLANRuang Iklan Atas970×90 Leaderboard
KesehatanDepth

9 Manfaat Ikan Laut: Mengkonsumsi Ikan Laut Bisa Bikin Cerdas dan Sehat

Manfaat Ikan Laut
Masyarakat Indonesia Perlu Terbiasa Makan Ikan Laut

Survei Status Gizi Indonesia 2024 yang dirilis Kementerian Kesehatan pada 2025 mencatat prevalensi stunting balita turun ke 19,8% — angka terendah dalam satu dekade. Di balik penurunan itu, salah satu intervensi paling banyak diadopsi Posyandu adalah produk olahan ikan laut. Sementara di tingkat global, paper terbaru di Nature Communications (Liu dkk., 2025) menegaskan: 3,3 miliar orang di seluruh dunia menggantungkan minimal 20% asupan protein hewaninya pada ikan dan hasil laut. Indonesia, sebagai negara dengan 5,8 juta km² perairan, seharusnya berada di garis depan mengkonsumsi ikan laut — tapi datanya bercerita lain.

Gizi Ikan Laut

Daging ikan mengandung protein 18–30%, lemak 0,1–2,2%, dan sisanya vitamin larut lemak plus mineral seperti iodium, seng, dan besi (Afrianto & Liviawaty, 1989 dalam Farida & Roosita, 2013). Nilai biologis proteinnya mencapai 90% — setara daging, sedikit di bawah telur, dan di atas serealia atau kacang-kacangan (Fuada dkk., 2018).

Ikan tongkol per 100 gram mengandung protein 25%, lemak 1,5%, dan air 69,4% (Sanger, 2010). Kandungan omega-3 dalam lemak ikan laut Indonesia cukup tinggi: EPA (asam eikosapentanoat) 11–15% dan DHA (asam dokosaheksanoat) 2–7% (Purnaningsih dkk., 2020). Beberapa jenis — sidat, terubuk, tenggiri, kembung, layang, bawal, tuna — bisa mencapai hingga 10,9 g omega-3 per 100 gram menurut data Lembaga Gizi Departemen Kesehatan RI yang dikutip Hafiludin (2011).

IKLANRuang Iklan In-Artikel300×250 / responsif

9 Manfaat Ikan Laut/ 9 Manfaat Mengkonsumsi Ikan Laut

1. Sumber protein hewani bermutu tinggi

Berdasarkan uji Protein Efficiency Ratio, Net Protein Utilization, dan Biological Value, mutu protein ikan setara daging dan di atas pangan nabati (Fuada dkk., 2018). Untuk anak-anak dengan asupan protein hewani terbatas, ikan menjadi pilihan dengan rasio harga-gizi yang sulit dikalahkan.

2. Mendukung perkembangan otak dan saraf anak

Omega-3 ikan laut menghasilkan DHA dan EPA. Keduanya berperan langsung dalam perkembangan saraf, otak, dan penglihatan (Fernandez dkk., 1999; Krauss-Etschmann dkk., 2007). Manfaat omega-3 pada balita meliputi peningkatan daya tahan tubuh, pertumbuhan tubuh, dan kecerdasan otak (Ilza & Siregar, 2015 dalam Purnaningsih dkk., 2020). Hasil riset Kompas TV (2025) mencatat IDI mendukung produk susu ikan sebagai alternatif susu sapi karena kandungan omega-3 yang lebih tinggi.

3. Berkorelasi dengan prestasi belajar

Riset Farida & Roosita (2013) pada 54 siswa SD kelas 5 di Pulau Pasaran (Lampung) dan Ciaruteun Ilir (Bogor) menemukan rata-rata nilai Matematika, Bahasa Indonesia, dan IPA anak pantai 72,84 — anak bukan pantai 67,02 (p<0,05). Frekuensi konsumsi ikan laut berkorelasi dengan kecukupan energi (r=0,419) dan protein (r=0,426). Kecukupan energi sendiri berhubungan signifikan dengan prestasi belajar (p=0,012).

Baca Juga: Film Ini Sangat Bagus Tetapi Untuk Usia 21 Tahun Ke Atas

4. Mencegah anemia, terutama pada remaja putri

Daging ikan mengandung zat besi heme yang berperan langsung dalam pembentukan hemoglobin. Restuti dkk. (2016) di Politeknik Negeri Jember menggunakan rolade ikan tongkol sebagai intervensi anemia remaja putri dengan hasil meningkatkan asupan besi. Konsumsi rutin ikan laut, terutama bagi remaja perempuan menjelang fase reproduksi, terbukti memperbaiki status besi tubuh.

5. Mempercepat penanganan stunting balita

Studi Siska Evi Martina (2022) menemukan konsumsi nugget tuna meningkatkan berat badan balita rata-rata 0,38 kg. Penelitian pengabdian masyarakat Universitas Sari Mutiara Indonesia (2024) di Belawan Sicanang mencatat edukasi pengolahan ikan tuna menaikkan pengetahuan gizi ibu balita dari kategori “kurang” (50%) menjadi “baik” (80%) — intervensi yang dianggap berhasil mempercepat penanganan stunting di kawasan pesisir Medan.

6. Memperkuat pertumbuhan tulang dan gigi

Ikan tuna dan tongkol mengandung kalsium, fosfor, dan vitamin D — kombinasi yang berpengaruh langsung pada densitas tulang anak. Olahan presto memungkinkan tulang ikan ikut dimakan setelah lunak, sehingga asupan kalsium lebih utuh dibanding ikan goreng biasa (Diniarti dkk., 2020).

Baca Juga: 9 Hal Penting Sebelum Nonton Film Spider-Man Brand New Day 2026

7. Merangsang produksi sel darah merah dan menghambat penuaan

Manfaat ini jarang dibicarakan di tingkat awam. Hastuti dan Ruhibnur (2016), yang dikutip Diniarti dkk. (2020), mencatat tongkol memiliki khasiat spesifik merangsang pertumbuhan sel-sel darah merah dan menghambat proses penuaan. Mekanismenya: kombinasi omega-3, vitamin B (tiamin, riboflavin, niasin), dan mineral selenium yang bekerja sebagai antioksidan endogen. Studi Hordaland Health (Nurk dkk., 2007) juga mencatat konsumsi ikan rutin berkaitan dengan performa kognitif yang lebih baik pada lansia.

8. Menurunkan risiko penyakit jantung dan depresi

Omega-3 EPA dan DHA mencegah aterosklerosis, menurunkan trigliserida dalam darah, serta menurunkan kolesterol hati dan jantung (Diniarti dkk., 2020). Yang lebih jarang diketahui: riset Purnaningsih dkk. (2020) yang dipublikasi Jurnal Pusat Inovasi Masyarakat IPB juga mengangkat peran konsumsi ikan dalam mencegah dan mengatasi depresi — sebuah temuan yang konsisten dengan literatur internasional tentang hubungan omega-3 dengan kesehatan mental. Kandungan kolesterol ikan juga lebih rendah dibanding daging sapi dan ayam.

9. Mendukung imunitas dan pemulihan

Protein berkualitas tinggi adalah bahan pembangun jaringan dan komponen kerja sistem imun (Setyaningsih & Agustini, 2014). Kombinasi protein, vitamin A (retinol), vitamin B, mineral selenium dan seng dari ikan laut sulit ditiru oleh satu jenis pangan lain dengan harga sebanding.

3,3 miliar Orang Menggantungkan Protein pada Ikan

Paper terbaru Liu dkk. yang dipublikasi di Nature Communications (Juni 2025) memberikan konteks penting. Tim peneliti dari Woods Hole Oceanographic Institution, Duke University, Arizona State University, dan UC Davis menemukan bahwa seafood menyumbang lebih dari 15% total konsumsi protein hewani global, dan 3,3 miliar orang di seluruh dunia menggantungkan minimal 20% asupan protein hewaninya pada ikan dan hasil laut.

Studi ini menambahkan temuan yang relevan untuk Indonesia: 63% negara mengalami net gain nutrisi dari perdagangan ikan internasional, tetapi negara yang mengalami net loss sebagian besar adalah small-island developing states dan negara Afrika. Pola ekspor-impor seafood global memperlihatkan bahwa negara berkembang cenderung mengekspor seafood bernilai tinggi (tuna, udang, kakap fillet) dan mengimpor seafood bernilai lebih rendah. Bagi Indonesia — produsen 20,84 juta ton ikan per tahun — pertanyaannya bukan apakah cukup ikan tersedia, melainkan ke mana ikan itu pergi.

Baca Juga: OPPO Reno 16F Ini Versi Murahnya Dari OPPO Reno 16

Benarkah orang Sumatra Lebih Cerdas Karena Rajin Makan Ikan?

Wacana ini sering muncul di ranah publik — kolumnis Yurnaldi di teraslampung.com (2020), misalnya, mengangkat ide bahwa kebiasaan masyarakat Sumatera Barat mengonsumsi ikan berkontribusi pada banyaknya tokoh nasional asal Minangkabau. Klaim itu tidak setara dengan bukti ilmiah, tapi pertanyaan di baliknya patut diuji dengan data.

Hal yang bisa dipertanggungjawabkan secara empiris:

  • Studi Liu dkk. (2017) dari University of Pennsylvania dan U.S. NIH, dipublikasi di Scientific Reports, menemukan anak usia 9–11 tahun yang makan ikan minimal sekali seminggu memiliki skor IQ rata-rata 4,8 poin lebih tinggi dibanding anak yang jarang/tidak pernah makan ikan. Sampel ~500 anak. Mereka juga tidur lebih nyenyak.
  • Riset Farida & Roosita (2013, IPB) menemukan anak SD di Pulau Pasaran (pesisir Lampung) memiliki rata-rata nilai 72,84 — anak Bogor 67,02 (p<0,05).
  • Skripsi Mentari (2014, USU) meneliti hubungan konsumsi ikan dan prestasi belajar di SD Brigjend Katamso II, Medan Marelan, Sumatera Utara.

Hal yang tidak bisa dipertanggungjawabkan: klaim spesifik seperti “x% pendiri bangsa berasal dari satu daerah karena makan ikan” tanpa kontrol terhadap variabel lain (tradisi pendidikan, mobilitas pendidikan tinggi pra-kemerdekaan, sistem matrilineal Minangkabau yang mendorong perantauan, jaringan diaspora). Korelasi konsumsi ikan dengan kecerdasan adalah fakta gizi; klaim deterministik bahwa satu etnis lebih cerdas karena pola makan adalah lompatan logika yang tidak didukung literatur. Perlu riset lebih banyak lagi mengapa pola kecerdasan berpikir anak dan ibu yang suka mengkonsumsi ikan laut memang lebih cerdas dari pada yang tidak suka makan ikan laut.

Ikan Laut di Padang dan Teluk Pandan: Dua Paradoks Pesisir

Dua riset lapangan dari Sumatera memperlihatkan jurang yang menarik di dalam wilayah pesisir sendiri.

Kota Padang, Sumatera Barat (Purnaningsih dkk., 2020, JPIM IPB). Walaupun Sumatera Barat tercatat memiliki Angka Konsumsi Ikan (AKI) 66,86 kg/kapita pada 2018 — jauh di atas AKI Nasional (50,65 kg) — ibu kotanya sendiri tertinggal jauh: AKI Kota Padang hanya 28,02 kg/kapita. Tim peneliti IPB melakukan kampanye publik untuk ibu-ibu PKK Ulak Karang Utara, dan menemukan bahwa pengetahuan gizi mereka naik dari 86,65% jawaban benar pada pre-test menjadi 96,67% pada post-test setelah satu sesi edukasi. Masalahnya, kata mereka, bukan ketersediaan ikan — tapi kebiasaan keluarga lebih memilih daging sapi dan ayam, ditambah minimnya diversifikasi olahan ikan.

Pesisir Teluk Pandan, Lampung (Sutrio & Mulyani, 2020, Gorontalo Journal of Public Health). Penelitian pada 111 siswa SD kelas 5–6 di SDN 4 dan SDN 14 Teluk Pandan, Kabupaten Pesawaran, menemukan 57,6% orangtua siswa bekerja sebagai nelayan. Tapi status gizi 25,2% siswa tergolong tidak normal. Temuan paling penting riset ini: asupan protein total berhubungan signifikan dengan status gizi (p=0,040), tetapi jumlah konsumsi ikan saja (p=0,599), frekuensi konsumsi ikan (p=0,954), maupun proporsi protein ikan (p=0,076) tidak berhubungan signifikan. Siswa dengan asupan protein kurang berisiko 2,73 kali lebih tinggi mengalami status gizi tidak normal.

Konsumsi ikan Lampung sendiri tercatat 33,05 kg/kapita pada 2018 — di bawah target nasional 54,49 kg. Pada 2024, posisi Lampung tidak banyak berubah: 39,20 kg/kapita/tahun, salah satu terendah nasional (KKP), Bahkan hampir sama rendahnya seperti masyarakat di Provinsi DI Yogyakarta.

Analisis MEZZALA.id — Manfaat Ikan Laut Telah Teruji, Mengapa Menolak?

Sembilan manfaat di atas berarti banyak — tetapi temuan Sutrio & Mulyani (2020) memberikan koreksi penting yang sering hilang dalam kampanye populer: makan ikan saja tidak otomatis memperbaiki status gizi anak. Hal yang menentukan adalah kecukupan protein total dan keseimbangan asupan karbohidrat, lemak, vitamin, dan mineral. Ikan adalah komponen kunci, meskipun bukan obat tunggal. Namun mengkonsumsi Ikan Laut tetaplah menjadi bagian paling terpenting untuk kesehatan dan kecerdasan otak khususnya pada anak-anak dan wanita/ ibu-ibu. Sering kali pernyataan dari orang-orang yang meremehkan gizi ikan laut adalah bersumber dari kaum Vegetarian/ Vegan. Sudah tahu ikan laut bermanfaat, mengapa menolak?.

Tiga implikasi praktis untuk pembaca Mezzala.id:

  • Untuk orangtua: jangan berhenti pada “anak saya sudah makan ikan.” Periksa total asupan harian — karbohidrat dari nasi, sayur, buah, dan kombinasi protein lain (telur, tempe, ayam) sama pentingnya. Riset Sutrio & Mulyani membuktikan 17,2% anak dengan asupan protein cukup tetap berstatus gizi tidak normal karena asupan zat gizi lain kurang.
  • Untuk variasi olahan: riset Diniarti dkk. (2020) di Lombok Timur dan Simanjuntak dkk. (2024) di Medan membuktikan pelatihan ibu rumah tangga 1–2 hari cukup untuk mengubah ikan segar yang sebelumnya dijual mentah menjadi camilan tahan simpan yang disukai balita — nugget, rolade, presto, abon, risoles.
  • Untuk konsumen di Jawa: pilih jenis ikan dengan harga-gizi paling masuk akal (kembung, layang, tongkol — lebih murah dari salmon dan kandungan omega-3-nya tidak kalah). Jadikan ikan rutin dua sampai tiga kali seminggu, bukan event istimewa.

Mengapa Angka Stunting 19,8% Masih Tinggi Padahal Manfaat Ikan Sangat Jelas?

SSGI 2024 mencatat penurunan stunting nasional ke 19,8%, melampaui target 20,1% yang dipasang RPJMN. Tetapi enam provinsi penyumbang balita stunting terbanyak adalah Jawa Barat (638.000 balita), Jawa Tengah (486.000), Jawa Timur (431.000), Sumatera Utara (316.000), NTT (214.000), dan Banten (209.000) — tiga di antaranya provinsi Jawa yang justru paling rendah konsumsi ikan lautnya.

Konsumsi ikan nasional 2024 hanya 58,91 kg/kapita/tahun (KKP), gagal capai target 62,05 kg. Pemerintah menargetkan stunting turun ke 14,2% pada 2029, dan ikan laut diposisikan menjadi salah satu instrumen utama melalui Program Makan Bergizi Gratis dan kampanye Gemarikan. Tetapi seperti yang diingatkan Sutrio & Mulyani — dan temuan global Liu dkk. (2025) — intervensi tunggal tidak menjawab masalah multifaktor.

Baca Juga: Inilah Mobil Listrik China Merek Geely dan Aletra

Catatan: bukan Nasihat Medis

Artikel ini merangkum manfaat ikan laut berdasarkan riset gizi Indonesia dan literatur internasional. Bagi pembaca dengan kondisi medis spesifik — alergi seafood, gangguan ginjal, ibu hamil dengan riwayat preeklamsia — konsultasikan jenis dan jumlah konsumsi ikan ke dokter gizi atau dokter spesialis terkait. angka omega-3 hingga 10,9 g/100 g pada sebagian ikan Indonesia bersumber dari Surriawiria (2002) yang dikutip Hafiludin (2011); data lapangan terbaru per jenis ikan dapat berbeda menurut musim dan habitat. Klaim “susu ikan” sebagai alternatif susu sapi masih dalam tahap kebijakan dan uji konsumen — belum semua brand di pasaran memenuhi standar gizi yang setara.

Baca Juga: Negara Penghasil Ikan Terbanyak di Dunia, Tapi Konsumsi Malah Pincang?

Referensi

  • Liu Y., Smith M.D., Abbott J.K., dkk. (2025). The global seafood trade, embodied nutrients, and nutritional affordability. Nature Communications.
  • Liu J., Cui Y., Li L., dkk. (2017). The mediating role of sleep in the fish consumption – cognitive functioning relationship. Scientific Reports 7:17961.
  • Purnaningsih N., Aldina V.D.R.R., Insani A.P. (2020). Kampanye Publik Tentang Manfaat Mengonsumsi Ikan pada Ibu-Ibu PKK Kelurahan Ulak Karang Utara, Kota Padang. Jurnal Pusat Inovasi Masyarakat IPB, 2(Edisi Khusus): 135–139.
  • Sutrio & Mulyani R. (2020). Hubungan Pola Konsumsi Ikan dengan Status Gizi Anak Sekolah di Pesisir Teluk Pandan Kabupaten Pesawaran. Gorontalo Journal of Public Health 3.
  • Fuada N., Muljati S., Triwinarto A. (2018). Sumbangan Ikan Laut Terhadap Kecukupan Konsumsi Protein Penduduk Indonesia. Penelitian Gizi dan Makanan 41(2):77–88.
  • Farida & Roosita K. (2013). Kebiasaan Konsumsi Ikan Laut, Tingkat Konsumsi, Status Gizi, dan Prestasi Belajar Siswa SD. Jurnal Gizi dan Pangan, IPB.
  • Diniarti N. dkk. (2020). Edukasi Nilai Gizi Ikan Melalui Pelatihan Pembuatan Makanan Olahan Berbahan Baku Ikan Tongkol. Universitas Mataram.
  • Simanjuntak S.E. dkk. (2024). Pemberdayaan Kelompok Posyandu dalam Inovasi Nugget Tuna. JKPM 7.
  • Nurk E. dkk. (2007). Cognitive performance among the elderly and dietary fish intake. American Journal of Clinical Nutrition 86: 1470–1478.
  • Hafiludin (2011). Karakteristik Proksimat dan Kandungan Senyawa Kimia Daging Ikan Tongkol. Jurnal Kelautan 4.
  • Kementerian Kesehatan RI (2025). SSGI 2024: Prevalensi Stunting Nasional Turun Menjadi 19,8%. kemkes.go.id
  • Kompas TV (2025). Kaya Omega 3, IDI Dukung Susu Ikan Atasi Stunting. kompas.tv
  • Yurnaldi (2020). Ikan dan Kepintaran Orang Sumatera Barat. teraslampung.com (sumber opini publik, bukan riset).
Bagikan: WhatsApp X Facebook Telegram
✍️ Redaksi Mezzala.id
MEZZALA (mezzala.id), Media Digital Indonesia, Email: redaksi@mezzala.id
IKLANRuang Iklan Bawah970×90 / responsif
🏠Beranda 📰Terkini 🕌Cahaya Islam Premium