Kamis, 20 Agustus 2026 M· Edisi Nasional
Melihat CelahMengisi RuangMembuka Arah
Breaking
IKLANRuang Iklan Atas970×90 Leaderboard
KulinerKilat

Demam Matcha di Indonesia, Tren Sehat atau FOMO Warna Hijau?

Demam-Matcha-Hijau-2026-Redaksi-Mezzala-Media-Digital-Indonesia
Demam Matcha Hijau 2026 Redaksi Mezzala.id Indonesia Media

Pukul sepuluh pagi, Sabtu, di sebuah kafe matcha di kawasan Senopati. Antrean sudah mengular sampai ke trotoar. Yang dijual? Segelas minuman hijau seharga Rp 55 ribu. Yang dibeli? Sesuatu yang lebih rumit dari sekadar kafein.

Indonesia sedang dilanda demam matcha. Bukan tren biasa — ini adalah pergeseran kebiasaan minum yang sudah berjalan dua tahun dan belum menunjukkan tanda mereda. Pertanyaannya: kenapa anak muda urban rela antre dan membayar mahal untuk sesuatu yang, secara teknis, hanya bubuk daun teh?

Bukan Tren Baru, Tapi Ledakan Baru
Matcha sendiri bukan barang baru. Bubuk teh hijau giling halus ini sudah menjadi bagian upacara minum teh Jepang sejak abad ke-12, berkembang di kawasan Uji, Kyoto. Di Indonesia, matcha sudah masuk lewat menu sushi dan kafe Jepang sejak awal 2010-an.

IKLANRuang Iklan In-Artikel300×250 / responsif

Yang membedakan ledakan 2024–2026 adalah skalanya. Bukan lagi item menu tambahan, matcha menjadi identitas kafe. Sepanjang 2025, kafe-kafe spesialis matcha bermunculan di Jakarta, Bandung, Surabaya, Yogyakarta, dan Bali — sebagian besar dengan konsep visual yang nyaris seragam: dinding putih bersih, kayu pucat, satu kursi baris di jendela untuk konten Instagram.

Permintaan global yang melonjak bahkan memicu peringatan kelangkaan dari produsen matcha di Jepang. Beberapa kebun matcha di Uji dan Nishio sempat membatasi pembelian per pelanggan pada pertengahan 2024 karena permintaan ekspor melebihi panen tahunan.

Baca juga di MEZZALA.id: Rekomendasi 15 Mobil Listrik “Value for Money” 2026

Apa yang Sebenarnya Dibeli Anak Muda? Tren FOMO?
Mencermati gelombang ini, redaksi Mezzala melihat empat lapis motivasi yang berjalan paralel — dan inilah yang membuat matcha berbeda dari boba atau brown sugar yang lebih cepat memudar:

Narasi kesehatan. Matcha kaya L-theanine dan antioksidan EGCG. Efek kafeinnya lebih lambat dan lebih panjang dibanding kopi — sering disebut “calm energy”. Bagi generasi yang lelah dengan jitter espresso dan keracunan minuman manis, ini terdengar seperti jawaban.
Estetika hijau. Warna matcha — terutama matcha latte dengan susu yang dituangkan perlahan — adalah konten visual yang sempurna. Algoritma Instagram dan TikTok mengganjar warna kontras tinggi, dan matcha menyediakannya gratis.
Penanda kelas yang halus. Membayar Rp 50 ribu untuk segelas matcha bukan soal haus. Itu adalah pernyataan: saya tahu perbedaan ceremonial grade dan culinary grade; saya bukan peminum minuman manis biasa. Bagi sebagian Gen Z, ini adalah cultural capital yang lebih terjangkau daripada hobi audiophile atau koleksi sneaker.
Kedekatan kultural dengan Jepang. Demam K-Pop pernah membawa cheese tea dan tteokbokki. Pasca-pandemi, gelombang Jejepangan kembali — dari anime, fashion, sampai matcha — membawa estetikanya sendiri.

Sisi Gelap Demam Matcha Hijau
Tidak semua “matcha” yang dijual layak disebut matcha. Pengamatan di lapangan menunjukkan tiga praktik yang mengkhawatirkan:

Bubuk teh hijau biasa dilabel matcha. Matcha sesungguhnya berasal dari daun teh yang ditutupi 20–30 hari sebelum panen agar klorofilnya naik dan rasa pahitnya turun. Bubuk teh hijau biasa yang digiling tidak sama — warnanya cenderung kuning-hijau, rasanya pahit menusuk. Banyak menu Rp 25 ribuan beroperasi di area abu-abu ini.
Pewarna hijau pada produk turunan. Es krim, kue, dan roti “matcha” tertentu memperoleh warnanya lebih dari pewarna makanan ketimbang bubuk matcha.
Klaim ceremonial grade tanpa bukti. Tidak ada sertifikasi internasional yang ketat untuk membedakan grade. Penjual bisa mengklaim apa saja.
Untuk pembeli yang ingin matcha sesungguhnya, indikator paling jujur adalah warna (hijau giok pekat, bukan hijau lumut), aroma (rumput segar, sedikit umami), dan harga bahan baku per gram. Matcha asli berkualitas medium di pasar lokal saat ini ada di kisaran Rp 25 ribu–Rp 60 ribu per 10 gram (harga reseller Juni 2026). Jika satu gelas dijual Rp 15 ribu, secara matematis sulit isinya matcha murni.

Catatan Mezzala.id: Sampai Kapan Demam Ini Bertahan?
Pola tren minuman di Indonesia cukup konsisten: boba (2018–2020), kopi susu gula aren (2019–2021), brown sugar (2020), cheese tea (2018), dan brown sugar boba sempat menjadi tulang punggung kafe-kafe baru sebelum jenuh. Rata-rata umur tren puncak: dua sampai tiga tahun.

Matcha kemungkinan akan mengikuti pola yang sama — tetapi dengan pengecualian penting. Matcha sudah punya basis konsumen lama di kalangan penggemar Jepang dan komunitas teh, sehingga ketika “demamnya” mereda, ia tidak akan hilang ke titik nol seperti brown sugar. Yang akan terjadi: penjajaran. Kafe matcha berkonsep dangkal akan tutup; yang serius dengan bahan dan ritual akan bertahan sebagai bagian permanen lanskap kafe Indonesia.

Bagi pelaku usaha yang baru mau masuk pada 2026, pesan kami sederhana: lewati gelombang puncak. Bangun konsep yang masih masuk akal saat antrean Sabtu pagi tidak lagi ada — karena suatu hari, ia memang tidak akan ada.

Baca juga di MEZZALA.id: Xiaomi 17T Series, Sudah Lulus 4 Sertifikat Kesehatan Mata TÜV Rheinland

Bagikan: WhatsApp X Facebook Telegram
✍️ Redaksi Mezzala.id
MEZZALA (mezzala.id), Media Digital Indonesia, Email: redaksi@mezzala.id
IKLANRuang Iklan Bawah970×90 / responsif
🏠Beranda 📰Terkini 🕌Cahaya Islam Premium