Mezzala.id – Sepotong kulit ayam bisa berakhir di dua tempat yang bertolak belakang: disingkirkan, atau justru diperebutkan sebagai bagian paling nikmat. Di Indonesia, cara kita memperlakukannya ternyata bukan sekadar soal selera — ia bercerita tentang tradisi, teknik memasak, dan bagaimana sebuah masyarakat memberi nilai pada makanannya.
Dari Rumah Makan Padang yang justru membuangnya, Angkringan Jogja dan bisnis UMKM yang mengangkatnya jadi primadona, sampai Gerai Toko Makanan Cepat Saji yang menjual kulit ayam sebagai camilan viral — satu bahan yang sama diperlakukan dengan tiga filosofi berbeda. Inilah kisah bagaimana ia berpindah kelas: dari bagian sisa menjadi penanda identitas kuliner.
Bagaimana Kulit Ayam di Padang Sumatera Barat?
Dalam khazanah masakan Padang, ada satu hidangan ikonik yang justru menolak kulit ayam: ayam pop. Ciri khasnya tampil pucat, lembut, dan tidak berminyak — kebalikan dari ayam goreng cokelat mengkilap yang umum kita bayangkan. Rahasianya, ayam dimasak bersama air kelapa dan bumbu hingga meresap, lalu digoreng sebentar saja.
Soal kulit, sumber resep sedikit berbeda pendapat. Sebagian menyebut kulit dilepas sebelum ayam diungkep, agar bumbu dan air kelapa langsung menembus serat daging tanpa terhalang lemak. Sebagian lain menyebut ayam direbus dulu bersama kulitnya supaya dagingnya tidak keras, baru kulit dilepas menjelang disajikan. Yang disepakati adalah hasil akhirnya: daging empuk, warna pucat, dan rasa bumbu yang bersih. Di sini, kulit dipandang bisa mengganggu estetika sekaligus penyerapan bumbu, sehingga rela dikorbankan.
Menariknya, ayam pop bukan resep berusia ratusan tahun. Hidangan ini diyakini lahir dari rumah makan Family Benteng Indah di Bukittinggi sekitar tahun 1950-an, dan nama “pop” kerap dikaitkan dengan kata “populer” — sebutan yang terbukti, karena hidangan ini cepat digemari justru berkat kesederhanaannya.
Baca Juga: Sertifikat Halal MUI Wajib Bagi Bisnis UMKM 2026

Di Jawa dan Jogja, Kulit Ayam Jadi Kuliner Favorit
Bergeser ke Jogja dan banyak wilayah Jawa, nasib kulit ayam berbalik total. Di gerobak angkringan, sate kulit adalah salah satu menu yang paling cepat ludes. Kulit ditusuk, dibumbui manis-gurih ala bacem, lalu dibakar hingga tepinya sedikit berkaramel dan mengeluarkan aroma khas.
Bagi penggemarnya, justru pada lemak dan tekstur kenyal-renyah itulah letak kenikmatannya. Rasa gurih — umami — yang keluar saat kulit dibakar terasa makin nikmat dipadukan nasi kucing hangat dan sambal yang pedas. Apa yang di ranah Minang dianggap “sisa”, di sini justru menjadi buruan yang kadang harganya bisa lebih mahal daripada sate dagingnya sendiri.
Kulit Ayam Krispi Jadi Ide Bisnis Kuliner UMKM hingga KFC
Puncak “naik kelas” ini terjadi ketika industri makanan cepat saji ikut turun tangan. Pada Mei 2019, KFC Indonesia resmi meluncurkan menu Chicken Skin — kulit ayam goreng krispi tanpa daging. Diumumkan lewat akun Instagram resminya pada 11 Mei 2019, menu ini awalnya hanya tersedia di sekitar enam gerai dengan harga kurang lebih Rp13.636 per porsi, dan langsung memicu antrean serta perbincangan riuh di media sosial.
Fenomena ini menegaskan satu hal: ia telah bergeser dari “bagian sisa” menjadi produk bernilai jual yang berdiri sendiri, mulai dari UMKM hingga Gerai Bisnis besar seperti KFC dan yang serupa. Dari sudut ekonomi, memanfaatkan seluruh bagian ayam juga mengurangi limbah — selaras dengan semangat nose-to-tail yang kini digemari dapur modern. Bagian yang dulu nyaris tak dihargai kini punya antrean pembelinya sendiri.
Baca Juga: 3 Rahasia Bikin Sambal Ijo khas Padang jadi Tambah Nikmat
Data Gizi Kulit Ayam: Tergantung Cara Masak
Di balik perdebatan rasa, ada pertanyaan yang selalu muncul: seberapa “berbahaya” kulit ayam? Jawabannya tidak bisa diringkas satu angka, karena nilai gizinya sangat bergantung pada cara masak — dan di sinilah banyak artikel keliru mengutip data.
Merujuk basis data USDA, kulit ayam mentah per 100 gram mengandung sekitar 349 kkal, 32 gram lemak, dan kurang lebih 109 mg kolesterol. Setelah dimasak, air menyusut dan lemaknya mengonsentrasi sehingga nilainya naik ke kisaran 450 kkal dengan sekitar 40 gram lemak. Bila kulit dibalur tepung lalu digoreng, energinya bisa melonjak hingga hampir dua kali lipat.
| Kondisi (per 100 g) | Kalori | Lemak | Kolesterol |
|---|---|---|---|
| Mentah (kulit saja) | ±349 kkal | ±32 g | ±109 mg |
| Dimasak / dipanggang | ±450 kkal | ±40 g | 82–132 mg |
| Digoreng tepung | Melonjak ~2× lipat | Naik tajam | Naik tajam |
Sumber: basis data USDA (kulit ayam, per 100 gram). Angka dibulatkan; nilai pasti bergantung pada potongan dan metode masak.
Ada dua hal yang perlu diluruskan. Pertama, kulit ayam kerap disebut “hanya” mengandung 9 gram lemak — angka ini keliru. Sembilan gram itu sebenarnya tambahan lemak yang disumbang kulit dibanding daging dada tanpa kulit, bukan kadar lemak kulit itu sendiri. Kedua, meski lemaknya tinggi, sekitar 70% di antaranya adalah lemak tak jenuh — jenis yang relatif lebih ramah dibanding lemak jenuh. Artinya, ia tidak sepenuhnya layak dicap “musuh”. Yang paling menentukan sehat atau tidaknya bukan kulitnya, melainkan cara memasak dan porsinya.

Kulit Ayam jadi Ide Bisnis UMKM hingga Identitas Kuliner Indonesia
Dari Minang ke Jawa hingga gerai cepat saji, kita menyaksikan satu bahan yang sama diperlakukan dengan tiga cara pandang: disingkirkan demi kebersihan rasa, dipeluk demi tekstur dan gurih, lalu dikemas ulang demi sensasi dan nilai jual. Tidak ada yang “salah” — masing-masing lahir dari sejarah, lingkungan, dan kebiasaan setempat.
Di situlah letak menariknya. Ini membuktikan bahwa selera bukan sesuatu yang alami dan universal, melainkan dibentuk oleh budaya. Apa yang dianggap istimewa di satu meja bisa dianggap tak bernilai di meja lain — dan keduanya sama-sama sah. Lewat sepotong kulit ayam, kita sebenarnya sedang membaca peta identitas kuliner Indonesia yang jauh lebih kaya daripada yang terlihat di permukaan.
Baca Juga: Mengenal Sekilas 14 Negara Muslim Peserta Piala Dunia 2026
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apakah kulit ayam berbahaya bagi kesehatan?
Tidak otomatis berbahaya. Dalam porsi wajar, ia boleh saja dinikmati. Yang perlu diwaspadai adalah cara masaknya: digoreng dengan tepung membuat kalori dan lemaknya melonjak, sedangkan dipanggang atau dibakar relatif lebih terkendali.
Kenapa ayam pop disajikan tanpa kulit?
Agar bumbu dan air kelapa meresap langsung ke daging, sekaligus menjaga tampilan pucat, bersih, dan tekstur lembut yang menjadi ciri khasnya.
Berapa kalori kulit ayam?
Menurut data USDA, sekitar 349 kkal per 100 gram dalam keadaan mentah, dan naik ke kisaran 450 kkal setelah dimasak. Digoreng tepung bisa jauh lebih tinggi lagi.
Penutup
Kulit ayam mengajarkan bahwa di meja makan, tidak ada bagian yang benar-benar netral. Ia bisa menjadi sisa yang dibuang, bisa pula menjadi primadona yang diperebutkan — dan perbedaan cara memaknainya itulah yang membuat kuliner Indonesia begitu kaya. Lain kali Anda memesan ayam, coba perhatikan: Anda tim kulit, atau tim tanpa kulit?
Baca Juga: Jelajahi artikel kuliner MEZZALA lainnya. Data gizi dapat ditelusuri langsung di USDA FoodData Central, sementara kisah peluncuran menu Chicken Skin KFC dapat dibaca di Hai (Grid).
Catatan redaksi Mezzala.id: perbedaan perlakuan kulit ayam di ranah Minang, Jawa, dan kuliner modern dirangkai dari beberapa sumber tepercaya dan dikonfirmasi silang — antara lain liputan asal-usul serta alasan ayam pop disajikan tanpa kulit (Sajian Sedap/Grid, CNN Indonesia, Tempo) dan pemberitaan peluncuran menu Chicken Skin KFC Indonesia (Mei 2019). Angka gizi mengacu pada basis data USDA untuk kulit ayam per 100 gram; nilai dapat berbeda menurut potongan dan metode masak. Klarifikasi bahwa “9 gram lemak” adalah selisih terhadap dada tanpa kulit — bukan kadar lemak kulit — serta bahwa mayoritas lemak kulit ayam bersifat tak jenuh, diperiksa berdasarkan data komposisi pangan yang sama. Artikel ini bersifat ulasan budaya-kuliner, bukan anjuran medis. Seluruh rujukan diperiksa hingga 11 Juli 2026.
