Kamis, 20 Agustus 2026 M· Edisi Nasional
Melihat CelahMengisi RuangMembuka Arah
Breaking
IKLANRuang Iklan Atas970×90 Leaderboard
OlahragaDepth

5 Mitos Piala Dunia: Apakah Masih Berlaku di Piala Dunia 2026?

Mezzala.id - 5 Mitos Piala Dunia

Mezzala.id – Setiap edisi turnamen selalu ditemani rombongan mitos Piala Dunia keyakinan yang diwariskan dari generasi ke generasi, diucapkan penuh percaya diri di warung kopi maupun studio televisi, tapi jarang benar-benar diuji dengan data. Sebagian bertahan karena memang berpijak pada pola nyata; sebagian lain cuma takhayul yang kebetulan cocok beberapa kali.

Menariknya, Piala Dunia 2026 yang tengah bergulir di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko seakan menjadi laboratorium hidup untuk menguji mitos-mitos itu satu per satu, secara langsung, di lapangan. Hingga babak 16 besar berjalan pekan ini, sebagian mitos tampak makin kokoh, sebagian lain mulai retak. Berikut lima yang paling sering disebut: MEZZALA telusuri asal-usulnya, verifikasi ke catatan sejarah, lalu hadapkan dengan apa yang sedang terjadi di turnamen kali ini.

Redaksi Mezzala.id: 5 Mitos Piala Dunia

Mitos 1: Tim Peringkat 1 FIFA Tidak Pernah Juara

Ini salah satu mitos yang justru berpijak pada fakta. Sejak sistem Peringkat Dunia FIFA diperkenalkan pada 1992–1993, belum pernah ada tim yang berstatus peringkat 1 dunia menjelang turnamen lalu keluar sebagai juara. Polanya konsisten dari edisi ke edisi:

IKLANRuang Iklan In-Artikel300×250 / responsif
  • Brasil (2010) — peringkat 1 dunia, tumbang di perempat final oleh Belanda.
  • Spanyol (2014) — peringkat 1 dunia sekaligus juara bertahan, malah tersingkir di fase grup setelah dihancurkan Belanda 1-5.
  • Jerman (2018) — peringkat 1 dunia, gugur di fase grup dan finis juru kunci grupnya.

Belgia bahkan sempat lama bertengger di puncak peringkat FIFA tanpa pernah sekali pun mengangkat trofi Piala Dunia. Beban peringkat 1 seperti menyimpan kutukannya sendiri.

Ujian di 2026: pada pembaruan resmi terakhir sebelum turnamen 11 Juni 2026 peringkat 1 dunia dipegang Argentina, yang sekaligus juara bertahan. Uniknya, seiring turnamen bergulir, hitungan peringkat berjalan FIFA (masih berstatus tidak resmi hingga pembaruan berikutnya pada 20 Juli) justru menempatkan Prancis di puncak dan menggeser Argentina ke posisi dua. Jadi dua tim teratas dunia sama-sama sedang diuji mitos ini dan keduanya masih hidup di babak gugur. Sementara itu Brasil, favorit yang finis peringkat enam, sudah lebih dulu angkat koper. Jika salah satu penghuni puncak itu juara, rekor lebih dari tiga dekade ini runtuh untuk pertama kalinya.

Mitos 2: Inggris “Terkutuk” dan Tak Akan Juara Lagi

Inggris merengkuh satu-satunya gelar Piala Dunia mereka pada 1966 sebagai tuan rumah, lewat final dramatis melawan Jerman Barat. Gol ketiga Geoff Hurst yang sampai hari ini diperdebatkan apakah benar-benar melewati garis gawang melahirkan cerita rakyat bahwa sejak itu Inggris “terkutuk” dan takkan pernah juara lagi.

Faktanya, enam dekade berlalu dan Inggris memang belum juara lagi tapi “kutukan” jelas kata yang keliru. Ini murni takhayul yang kebetulan cocok. Realitasnya, Inggris mencapai semifinal Piala Dunia 1990 dan 2018, serta dua kali beruntun menjadi runner-up Piala Eropa (2020 dan 2024). Mereka bukan tim terkutuk; mereka tim yang berkali-kali dekat, lalu terpeleset di momen penentu.

Ujian di 2026: alih-alih layu, Inggris justru melangkah ke perempat final dan akan menghadapi Norwegia pada 11 Juli 2026 di Miami Gardens. “Kutukan” itu sedang diuji lagi dan sejauh ini Inggris termasuk yang bertahan.

Baca Juga: Travelling: Mengenal Sekilas Kota Bersejarah 14 Negara Muslim Peserta Piala Dunia 2026

Mitos 3: Tim Juara Selalu Dilatih oleh Pelatih asal Negaranya Sendiri

Yang satu ini bukan sekadar mitos, melainkan rekor yang belum pernah patah. Sejak Piala Dunia pertama pada 1930 hingga edisi terakhir di Qatar 2022, setiap juara dunia selalu diracik pelatih yang sebangsa dengan timnya. Tidak ada satu pun pengecualian.

Pelatih asing memang beberapa kali nyaris menembusnya, tapi selalu mentok. Guus Hiddink (Belanda) membawa Korea Selatan ke semifinal 2002, Luiz Felipe Scolari (Brasil) melakukannya bersama Portugal pada 2006, dan Roberto Martínez (Spanyol) bersama Belgia pada 2018. Bahkan yang menembus final George Raynor bersama Swedia (1958) dan Ernst Happel bersama Belanda (1978) tetap pulang tanpa trofi.

Ujian di 2026: turnamen ini menampung jumlah pelatih asing terbanyak sepanjang sejarah. Yang paling menonjol, tuan rumah Amerika Serikat ditangani Mauricio Pochettino, pelatih asal Argentina, dan ikut melaju ke babak gugur. Andai tim berpelatih asing menjuarai turnamen ini, catatan bersih hampir seabad itu akhirnya ternoda.

Mitos 4: Selalu Ada Kuda Hitam di Perempat Final Piala Dunia

Klaim ini terdengar seperti perasaan belaka, tapi sejarah cukup rajin membenarkannya. Nyaris setiap edisi menyisakan minimal satu tim tak diunggulkan di delapan besar: Paraguay dan Ghana (2010), Kolombia dan Kosta Rika (2014), Kroasia yang bahkan menembus final serta tuan rumah Rusia (2018), sampai Maroko yang menorehkan sejarah sebagai semifinalis pertama dari Afrika dan dunia Arab (2022).

Ujian di 2026: mitos ini kembali terbukti bahkan berlipat. Norwegia, yang menyingkirkan Brasil 2-1 di babak 16 besar, melenggang ke perempat final untuk pertama kali dalam sejarah mereka. Norwegia, Maroko, Meksiko, Kolombia dianggap sebagai kuda hitam di Piala Dunia 2026 ini.

Mitos 5: Tidak Ada Juara Beruntun dan “Kutukan” Sang Juara Bertahan

Di sinilah versi yang beredar sering keliru. Banyak yang menyebut “tak ada juara beruntun sejak 1998”. Angka yang tepat jauh lebih tua: juara beruntun terakhir adalah Brasil pada 1958 dan 1962 sebelumnya hanya Italia (1934 dan 1938) yang pernah melakukannya. Artinya sudah 64 tahun tak ada satu negara pun yang sanggup mempertahankan mahkotanya.

Yang lebih tajam lagi adalah “kutukan juara bertahan”: empat sang juara berturut malah rontok di fase grup edisi berikutnya Prancis (2002), Italia (2010), Spanyol (2014), dan Jerman (2018). Prancis sempat mematahkan pola dengan melaju ke final 2022, sebelum akhirnya ditaklukkan Argentina lewat drama adu penalti.

Ujian di 2026: kini giliran Argentina sang juara bertahan yang memikul beban itu. Dan kutukan itu nyaris terjadi lebih cepat: di babak 32 besar, La Albiceleste hampir menjadi korban kejutan terbesar turnamen sebelum menang tipis 3-2 atas debutan Tanjung Verde lewat gol di masa perpanjangan waktu. Mereka lolos, tapi peringatannya jelas.

Baca Juga: Perbedaan Kisah Nabi Nuh dalam Islam dan Kristen

Benang Merah: Timnas Argentina Memikul Dua Mitos Sekaligus

Kalau diperhatikan, dua raksasa membayangi mitos-mitos ini sekaligus. Argentina adalah peringkat 1 dunia resmi jelang turnamen (mitos 1) sekaligus juara bertahan (mitos 5); jika mereka mengangkat trofi di New York/New Jersey bulan ini, dua mitos yang bertahan puluhan tahun tumbang dalam satu malam. Dan seandainya justru Prancis yang kini memuncaki peringkat berjalan sekaligus runner-up 2022 yang juara, mitos peringkat 1 pun tetap ikut runtuh. Nyaris setiap jalan menuju trofi tahun ini bersinggungan dengan salah satu mitos. Sebaliknya, jika semua bertahan, mitos-mitos itu justru makin kokoh. Sulit membayangkan panggung yang lebih pas untuk menguji takhayul sepak bola.

Pelajaran terpentingnya: mitos-mitos ini bukan hukum fisika, melainkan pola statistik. Ia menggambarkan kecenderungan, bukan kepastian. Peringkat 1 kerap gagal karena beban ekspektasi dan lawan yang selalu tampil habis-habisan; juara bertahan sering rontok karena regenerasi yang telat dan motivasi lawan yang berlipat. Selama alasannya masuk akal, pola bisa bertahan lama — sampai satu tim, di satu turnamen, memutuskan untuk mematahkannya.

Ringkasan: 5 Mitos dan Statusnya di 2026

MitosKata Data (Sejarah)Status di Piala Dunia 2026
Peringkat 1 FIFA tak pernah juaraTerbukti sejak 1992–1993Argentina (Rank 1 FIFA resmi 11 Juni 2026) & Prancis (Naik ke Rank 1 FIFA sepanjang turnamen Piala Dunia 2026 hingga 06 Juli 2026)
Inggris “terkutuk” sejak 1966Takhayul; realitanya sering dekatInggris tembus perempat final
Pelatih Tim Juara adalah dari negaranyaRekor bertahan sejak 1930–2022Tuan rumah AS dilatih Pochettino Pelatih asal Argentina
Selalu ada kuda hitam di 8 besarTerbukti nyaris tiap edisiNorwegia, Maroko, Kolombia, Meksiko, Mesir, Amerika Serikat?
Tak ada juara Piala Dunia beruntunSejak Piala Dunia 1962Argentina nyaris tumbang di 32 besar dari Tanjung Verde

Geser tabel ke samping untuk melihat kolom lainnya di layar HP.

Baca Juga: Norwegia Menang Atas Brasil di Piala Dunia 2026: Efisiensi Haaland Cetak Gol

Catatan redaksi: artikel ini dikembangkan dari daftar mitos Piala Dunia yang populer beredar di media daring, lalu diverifikasi ulang ke sumber primer dan diperbarui dengan konteks Piala Dunia 2026 termasuk mengoreksi klaim keliru bahwa “tak ada juara beruntun sejak 1998” (yang benar: sejak 1962). Data historis dan peringkat FIFA dirujuk dari FIFA, Wikipedia (Peringkat Dunia FIFA & Daftar Pelatih Juara Piala Dunia), ESPN, Sky Sports, Goal, dan Al Jazeera; perkembangan Piala Dunia 2026 dirujuk dari laporan babak gugur ESPN, Sky Sports, Al Jazeera, dan Wikipedia. Sumber berbahasa Indonesia (Wikipedia bahasa Indonesia dan FIFA.com edisi Indonesia) digunakan sebagai pelengkap. Peringkat 1 dunia dalam artikel ini merujuk pembaruan resmi FIFA 11 Juni 2026 (Argentina); dalam peringkat berjalan yang masih berstatus tidak resmi selama turnamen, Prancis memuncaki daftar (per 6 Juli 2026), dengan pembaruan resmi berikutnya dijadwalkan 20 Juli 2026. Skor dan status tim berlaku hingga 6 Juli 2026; sebagian laga babak gugur masih berlangsung. Kutipan dan data diterjemahkan serta diselaraskan dari sumber berbahasa Inggris.

Bagikan: WhatsApp X Facebook Telegram
✍️ Redaksi Mezzala.id
MEZZALA (mezzala.id), Media Digital Indonesia, Email: redaksi@mezzala.id
IKLANRuang Iklan Bawah970×90 / responsif
🏠Beranda 📰Terkini 🕌Cahaya Islam Premium