Redaksi Mezzala.id – Kisah Nabi Nuh termasuk salah satu narasi paling dikenal dalam sejarah umat manusia diceritakan turun-temurun, diilustrasikan ke film layar lebar, dan hadir baik dalam Al-Qur’an Islam maupun Alkitab Kristen. Namun di balik garis besar yang tampak serupa, ada perbedaan mendasar antara narasi Islam dan narasi Kristen tentang banjir besar itu. Tulisan ini menelusuri kisah tersebut dari perspektif Al-Qur’an, membandingkannya dengan versi Alkitab, lalu menimbang apa makna perbedaan itu bagi kita.
Bayangkan langit menghitam, hujan turun begitu deras hingga pohon dan bukit tenggelam, dan orang-orang berlarian mencari tempat berlindung yang tak pernah benar-benar melindungi mereka. Di tengah kekacauan itu, sebuah kapal mengapung tenang di atas air seolah dijaga oleh tangan yang tak terlihat. Itulah bahtera Nabi Nuh: harapan bagi yang selamat sekaligus kabar tentang awal yang baru. Pertanyaannya, seperti apa perjuangan Nabi Nuh, apa sebenarnya yang memicu banjir itu, dan bagaimana dua kitab suci besar dunia menceritakannya?
Kisah Nabi Nuh dan Kaum Penyembah Berhala
Nabi Nuh ‘alaihissalam hidup di kawasan yang kini dikenal sebagai Mesopotamia. Ia seorang yang dihormati dan berakhlak baik, tinggal di tengah kaumnya selama bertahun-tahun. Namun masyarakat tempatnya hidup sangat berbeda dengannya: yang kuat menindas yang lemah, kesombongan menguasai hati, dan kesyirikan menjadi kebiasaan. Menurut sejumlah ahli tafsir, penyimpangan itu bermula ketika kaumnya membuat patung orang-orang saleh yang telah wafat untuk mengenang mereka. Lama-kelamaan penghormatan itu berubah menjadi pemujaan, hingga akhirnya mereka melupakan Sang Pencipta yang sebenarnya.
Baca Juga: Basuki Ahok Konsisten Tolak Program MBG
Kepada kaum seperti inilah Nabi Nuh diutus. Bagian proses dakwah dan pembangunan bahtera ini justru dirinci dalam Al-Qur’an, sementara Alkitab tidak banyak menyinggungnya. Allah berfirman:
“Sungguh, Kami benar-benar telah mengutus Nuh kepada kaumnya, lalu dia berkata, ‘Wahai kaumku! Sembahlah Allah! Tidak ada tuhan (sembahan) bagimu selain Dia. Sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa azab pada hari yang dahsyat.” Q.S. Al-A’raf: 59
Al-Qur’an bahkan menyebut nama berhala-berhala yang dipuja kaum Nuh, sebuah detail yang tidak kita temukan dalam Alkitab. Ketika Nuh mengajak mereka kembali kepada Allah, mereka justru saling menguatkan untuk bertahan pada sesembahan lama:
“Dan mereka berkata, ‘Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) Wadd, dan jangan pula Suwā’, Yagūṡ, Ya’ūq, dan Nasr.'” Q.S. Nuh: 23
Dakwah yang Ditolak dan Doa Terakhir Nabi Nuh
Nabi Nuh berdakwah siang dan malam. Tanggapan kaumnya berkisar antara kesombongan, penghinaan, dan tuduhan bahwa ia sesat. Sebagian menuduh Nuh berdakwah demi keuntungan pribadi tuduhan yang ia jawab dengan tegas bahwa ia tidak meminta imbalan apa pun:
“Dan aku tidak meminta imbalan kepadamu atas ajakan itu; imbalanku hanyalah dari Tuhan seluruh alam.” Q.S. Asy-Syu’ara: 109
Mereka pun merendahkan para pengikut Nuh yang kebanyakan berasal dari kalangan lemah: “Apakah kami harus beriman kepadamu, padahal pengikut-pengikutmu orang-orang yang hina?” (Q.S. Asy-Syu’ara: 111). Meski dihina, Nuh tetap menyayangi kaumnya dan ingin menyelamatkan mereka dari azab. Namun hanya segelintir yang beriman, sementara yang lain kian keras menolak. Setelah bertahun-tahun tak membuahkan hasil, Nuh akhirnya memanjatkan doa terakhirnya:
“Ya Tuhanku, sungguh kaumku telah mendustakan aku; maka berilah keputusan antara aku dengan mereka, dan selamatkanlah aku dan orang-orang mukmin yang bersamaku.” Q.S. Asy-Syu’ara: 117–118
Apa Sebab Banjir Besar menurut Islam dan Kristen?
Di sinilah salah satu perbedaan paling mencolok antara kedua narasi terlihat. Menurut Alkitab, rangkaian peristiwa yang berujung pada banjir dimulai dengan gambaran bahwa bumi telah rusak dan dipenuhi kekerasan, hingga muncul pernyataan yang mengejutkan:
“Ketika dilihat TUHAN, bahwa kejahatan manusia besar di bumi dan bahwa segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata, maka menyesallah TUHAN, bahwa Ia telah menjadikan manusia di bumi, dan hal itu memilukan hati-Nya.” Kitab Kejadian 6:5–6
Alkitab juga menyebut pemicu lain: sekelompok yang disebut “anak-anak Allah” mengambil istri dari kalangan “anak-anak perempuan manusia” yang mereka sukai (Kitab Kejadian 6:1–2), dan dari sanalah kejahatan disebut kian bertambah. Al-Qur’an sama sekali tidak menyinggung soal “penyesalan Tuhan” maupun kisah “anak-anak Allah” menikahi manusia.
Dalam pandangan Islam, gagasan bahwa Tuhan “menyesal” tidak mungkin terjadi. Penyesalan lahir dari kelemahan melakukan sesuatu tanpa memperhitungkan akibatnya, lalu berharap tidak melakukannya. Konsep ketuhanan dalam Islam bertumpu pada tanzih: Allah Mahasempurna dan tersucikan dari segala kekurangan. Karena itu sifat seperti menyesal, bertindak gegabah saat marah, atau gagal meramalkan akibat, tidak akan pernah dinisbatkan kepada-Nya. Dalam Al-Qur’an, sebab banjir dijelaskan lugas: azab yang adil atas kaum yang berkukuh menolak kebenaran, sesudah dakwah panjang yang mereka tolak.
Perintah Membangun Bahtera
Setelah penantian panjang, datanglah perintah Allah kepada Nabi Nuh:
“Dan diwahyukan kepada Nuh, ‘Ketahuilah, tidak akan beriman di antara kaummu, kecuali orang yang benar-benar beriman (saja), karena itu janganlah engkau bersedih hati tentang apa yang mereka perbuat. Dan buatlah kapal itu dengan pengawasan dan petunjuk wahyu Kami, dan janganlah engkau bicarakan dengan Aku tentang orang-orang yang zalim. Sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan.” Q.S. Hud: 36–37
Alkitab memberi perintah serupa, tetapi dengan detail teknis yang jauh lebih rinci — termasuk bahan dan ukuran bahtera: dari kayu gofir, “tiga ratus hasta panjangnya, lima puluh hasta lebarnya dan tiga puluh hasta tingginya” (Kitab Kejadian 6:14–15). Selanjutnya, di sinilah muncul perbedaan penting soal siapa saja yang boleh naik.
Ketika mulai membangun bahtera di daratan kering yang jauh dari laut, Nabi Nuh diejek habis-habisan. “Engkau berhenti jadi nabi dan beralih jadi tukang kayu?” begitu kira-kira ejekan mereka, “bagaimana mungkin kapal ini berlayar di tanah kering?” Nuh tidak menggubrisnya. Ia yakin Allah Mahakuasa atas segala sesuatu dan tak pernah mengingkari janji-Nya, lalu ia terus bekerja.
Siapa yang Selamat di Bahtera Kapal Nabi Nuh?
Menurut narasi Kristen, satu-satunya manusia yang naik ke bahtera adalah keluarga Nuh: dirinya, istrinya, ketiga anaknya (Sem, Ham, dan Yafet), beserta para menantunya. Menurut narasi Islam, meski jumlahnya sedikit, yang naik adalah seluruh orang beriman — bukan hanya keluarga. Sebaliknya, tidak semua anggota keluarga Nuh diizinkan naik. Allah berfirman:
“Hingga apabila perintah Kami datang dan tanur (dapur) telah memancarkan air, Kami berfirman, ‘Muatkanlah ke dalamnya (kapal itu) dari masing-masing (hewan) sepasang (jantan dan betina), dan (juga) keluargamu kecuali orang yang telah terkena ketetapan terdahulu dan (muatkan pula) orang yang beriman.’ Ternyata orang-orang beriman yang bersama dengan Nuh hanya sedikit.” Q.S. Hud: 40
Perbedaan mencolok muncul pada nasib anak Nuh. Alkitab menyebut ketiga putra Nuh ikut selamat. Al-Qur’an mengisahkan salah satu putranya menolak beriman dan tidak mau naik sebuah adegan yang menjadi salah satu duka terberat dalam hidup sang nabi:
“Dan Nuh memanggil anaknya, ketika dia (anak itu) berada di tempat yang jauh terpencil, ‘Wahai anakku! Naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah engkau bersama orang-orang kafir.’ Dia (anaknya) menjawab, ‘Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat menghindarkan aku dari air bah!’ (Nuh) berkata, ‘Tidak ada yang melindungi dari siksaan Allah pada hari ini selain Allah yang Maha Penyayang.’ Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya; maka dia (anak itu) termasuk orang yang ditenggelamkan.” Q.S. Hud: 42–43
Perhatikan panggilan Nuh: ia tidak berkata sekadar “anakku”, melainkan yā bunayya “wahai anakku sayang” sebuah ungkapan penuh kasih. Di atas semua penderitaan yang telah ia tanggung dari kaumnya, kini ia harus menyaksikan anaknya sendiri memilih tenggelam. Kisah ini menegaskan prinsip penting dalam Islam: hubungan darah tidak menjamin keselamatan; yang menyelamatkan adalah iman.
Berapa Pasang Hewan yang Dibawa? Sebuah Perbedaan Angka
Untuk menjaga kelangsungan kehidupan di tempat bahtera kelak mendarat, Nuh diperintahkan membawa sepasang dari tiap jenis makhluk. Al-Qur’an menyebut angka ini secara konsisten: “dari masing-masing (hewan) sepasang (jantan dan betina)” (Q.S. Hud: 40). Alkitab juga memuat perintah serupa, tetapi dengan angka yang berbeda pada dua tempat. Pada Kejadian 6:19 disebut “satu pasang” dari segala makhluk, sedangkan pada pasal berikutnya:
“Dari segala binatang yang tidak haram haruslah kau ambil tujuh pasang, jantan dan betinanya, tetapi dari binatang yang haram satu pasang, jantan dan betinanya; juga dari burung-burung di udara tujuh pasang, jantan dan betina, supaya terpelihara hidup keturunannya di seluruh bumi.” Kitab Kejadian 7:2–3
Pada bagian pertama, sepasang; pada bagian kedua, tujuh pasang untuk hewan halal. Bagi pembaca Muslim, perbedaan angka dalam satu kitab yang diyakini wahyu memunculkan pertanyaan mendasar tentang keterjagaan teks — sebuah poin yang akan kita bahas di bagian penutup.
Banjir Surut dan Bahtera Berlabuh
Saat air memancar dari tanur dan hujan mengguyur, kapal yang semula berdiri di daratan perlahan terangkat. Kaum yang selama ini menolak Nuh baru menyadari harga mahal yang harus mereka bayar. Menurut Alkitab, ketika itu Nuh berusia 600 tahun (Kitab Kejadian 7:6); menurut Al-Qur’an, Nuh telah tinggal di tengah kaumnya “seribu tahun kurang lima puluh tahun” alias 950 tahun (Q.S. Al-Ankabut: 14). Setelah berhari-hari yang menguji kesabaran orang-orang beriman, langit pun cerah dan air surut:
“Dan difirmankan, ‘Wahai bumi! Telanlah airmu dan wahai langit (hujan!) berhentilah.’ Dan air pun disurutkan, dan perintah pun diselesaikan, dan kapal itu pun berlabuh di atas gunung Judi, dan dikatakan, ‘Binasalah orang-orang zalim.” Q.S. Hud: 44
Al-Qur’an menyebut tempat berlabuh itu Gunung Judi, sementara Alkitab menyebut pegunungan Ararat (Kejadian 8:4). Satu perbedaan lain: Alkitab menegaskan banjir meliputi seluruh bumi, sedangkan Al-Qur’an membiarkannya tidak terperinci. Di kalangan ulama tafsir, sebagian memahaminya sebagai banjir global, sebagian lain menilainya terbatas pada wilayah kaum Nuh. Bagi Sang Pencipta yang Mahakuasa, seluas apa pun cakupannya sama mudahnya sehingga yang lebih penting untuk kita renungkan adalah pesan di balik kisahnya, bukan sekadar luas wilayahnya.
Baca Juga: Indonesia Naik Peringkat Sebagai Negara Wisata Halal Dunia
Kisah Setelah Banjir: Bagian yang Hanya Ada di Alkitab
Selepas bahtera mendarat, Alkitab melanjutkan dengan sejumlah kisah yang tidak dikenal dalam Islam. Pertama, disebutkan TUHAN “mencium persembahan yang harum” dari korban bakaran Nuh, lalu berketetapan tak akan lagi mengutuk bumi (Kejadian 8:20–21). Jika dibaca berurutan dengan Kitab Kejadian pasal 6, yang menyebut Tuhan “menyesal” menciptakan manusia — gambaran ini seolah menampilkan Tuhan yang mula-mula murka dan mendatangkan banjir, lalu menjadi reda setelah mencium bau harum. Dalam akidah Islam, penggambaran semacam ini tidak dapat diterima karena bertentangan dengan kesempurnaan Allah.
Kisah kedua lebih mengejutkan. Kitab Kejadian pasal 9 menuturkan bahwa Nuh menanam kebun anggur, lalu:
“Setelah ia minum anggur, mabuklah ia dan ia telanjang dalam kemahnya. Maka Ham, bapa Kanaan itu, melihat aurat ayahnya, lalu diceritakannya kepada kedua saudaranya di luar.” Kitab Kejadian 9:21–22
Sem dan Yafet lalu menutupi aurat ayah mereka dengan berjalan mundur agar tidak melihatnya. Namun ketika Nuh sadar, ia justru mengutuk dan yang dikutuk bukan Ham, melainkan Kanaan, putra Ham yang tidak terlibat: “Terkutuklah Kanaan, hendaklah ia menjadi hamba yang paling hina bagi saudara-saudaranya” (Kitab Kejadian 9:25). Bagi pembaca Muslim, dua hal terasa janggal di sini: pertama, seorang nabi digambarkan mabuk dan telanjang; kedua, kutukan dijatuhkan kepada pihak yang tidak bersalah — sesuatu yang bertentangan dengan keadilan yang seharusnya melekat pada nabi.
Baca Juga: Tim Kuda Hitam Piala Dunia 2026
Ketika “Kutukan Kanaan” Dipakai Membenarkan Perbudakan
Bagian tergelap dari kisah ini bukan pada teksnya, melainkan pada sejarah penafsirannya. Sejak sekitar abad ke-15, berkembang keyakinan keliru bahwa “kutukan Nuh” atas Ham dan Kanaan adalah asal-usul orang berkulit hitam — dan tafsir itu dipakai untuk membenarkan perbudakan orang Afrika. Penulis sejarah Portugis Gomes Eanes de Zurara, dalam kroniknya pada abad ke-15, mengaitkan nasib para tawanan Afrika yang ia saksikan dengan “kutukan yang ditimpakan Nuh kepada Ham setelah air bah”. Beberapa abad kemudian, pendeta Afrika-Amerika lulusan Cambridge, Alexander Crummell, mencatat pada 1862 bahwa “pendapat yang hampir universal di dunia Kristen” waktu itu menyatakan penderitaan dan perbudakan ras kulit hitam adalah akibat kutukan Nuh.
Perlu ditegaskan secara adil: teks Alkitab tidak menyebut warna kulit sama sekali, dan mayoritas rohaniwan Kristen masa kini menolak tafsir rasis tersebut sebagai kesalahan pembacaan. Kita memang tidak bisa menghakimi sebuah agama semata-mata dari kesalahan yang dibuat sebagian pengikutnya di masa lalu. Namun inti persoalan yang menjadi perhatian Islam bukanlah kesalahan penafsir, melainkan apa yang tertulis dalam teks itu sendiri: penggambaran seorang nabi besar dengan cara yang tidak layak baginya.
Ringkasan Perbedaan Nuh dalam Al-Qur’an dan Alkitab
| Aspek | Al-Qur’an | Alkitab |
|---|---|---|
| Sebab banjir | Azab yang adil atas kaum penyembah berhala yang menolak dakwah | Bumi rusak; TUHAN “menyesal” menciptakan manusia |
| Penumpang yang selamat | Seluruh orang beriman (jumlahnya sedikit), termasuk keluarga yang beriman | Hanya keluarga Nuh: istri, tiga anak, dan para menantu |
| Nasib anak Nuh | Salah satu putranya kafir, menolak naik, dan ikut tenggelam | Ketiga putra (Sem, Ham, Yafet) ikut selamat |
| Jumlah pasangan hewan | Sepasang tiap jenis (konsisten) | Kejadian 6: sepasang; Kejadian 7: tujuh pasang hewan halal, sepasang hewan haram |
| Tempat berlabuh | Gunung Judi | Pegunungan Ararat |
| Penggambaran Tuhan | Mahasempurna, tersucikan dari penyesalan dan kekurangan | Digambarkan “menyesal” dan “memilukan hati-Nya” |
| Kisah setelah banjir | Fokus pada pelajaran tauhid dan keselamatan orang beriman | Nuh mabuk anggur; kutukan dijatuhkan atas Kanaan |
Perbandingan disusun dari Al-Qur’an (terjemahan Kemenag RI) dan Alkitab Terjemahan Baru (LAI).
Pelajaran: Mengapa Ada Perbedaan?
Dari perbandingan di atas, satu benang merah terlihat. Dalam pandangan Islam, kisah para nabi seharusnya bebas dari kontradiksi maupun penggambaran yang tak layak. Perbedaan angka hewan dalam satu kitab, atau penisbatan sifat “menyesal” dan “marah lalu reda” kepada Tuhan, dinilai tidak sejalan dengan kesempurnaan wahyu. Sementara itu, Al-Qur’an menuturkan kisah yang sama secara utuh — tanpa kontradiksi dan tanpa penggambaran yang mengurangi kemuliaan Allah maupun kehormatan para nabi-Nya.
Dari sudut pandang inilah umat Islam meyakini bahwa Al-Qur’an hadir untuk meluruskan — membersihkan kisah-kisah terdahulu dari keyakinan keliru yang bercampur di dalamnya selama berabad-abad, lalu menuturkannya dengan cara yang paling tepat. Al-Qur’an yang sama juga meluruskan keyakinan tentang Nabi Isa (Yesus): menempatkannya bukan sebagai tuhan, melainkan sebagai salah satu nabi termulia yang diutus Allah.
Kita semua sedang berlayar di atas “kapal” besar bernama bumi, menembus samudra semesta yang luas. Sepanjang sejarah, para nabi menjadi nakhoda yang membimbing manusia menuju kebenaran — dan setiap kali ajaran murni yang mereka bawa mulai memudar, tugas itu diserahkan kepada nakhoda berikutnya. Bagi umat Islam, nakhoda terakhir itu adalah Nabi Muhammad ﷺ, dan kompasnya adalah Al-Qur’an. Kisah Nabi Nuh mengingatkan kita: badai boleh sedahsyat apa pun, tetapi mereka yang berpegang pada tali keimanan akan selalu menemukan tempat berlabuh yang aman.
Referensi
- Al-Qur’an al-Karim, terjemahan Kementerian Agama RI — Q.S. Al-A’raf: 59; Hud: 36–37, 40, 42–44; Asy-Syu’ara: 109, 111, 117–118; Nuh: 23; Al-Ankabut: 14.
- Alkitab, Terjemahan Baru (Lembaga Alkitab Indonesia) — Kitab Kejadian pasal 6–9 (khususnya 6:1–2, 6:5–7, 6:14–19, 7:2–3, 7:6, 7:11, 8:4, 8:20–21, 9:20–27).
- Tafsir klasik (mis. Tafsir Ibnu Katsir) — keterangan tentang berhala Wadd, Suwa’, Yaguts, Ya’uq, dan Nasr, serta lokasi Gunung Judi.
- Gomes Eanes de Zurara, Crónica dos feitos de Guiné (abad ke-15) — catatan sejarah yang mengaitkan perbudakan Afrika dengan “kutukan Ham”.
- Alexander Crummell, The Future of Africa (1862) — catatan tentang pandangan Kristen abad ke-19 mengenai “kutukan Nuh”.
Baca Juga: Tren Abaya 2026 Fashion Negara Arab di Eropa
