Kamis, 20 Agustus 2026 M· Edisi Nasional
Melihat CelahMengisi RuangMembuka Arah
Breaking
IKLANRuang Iklan Atas970×90 Leaderboard
EkonomiDepth

Ceker Ayam Indonesia Menuju China: Ekspor Miliaran dari Bagian Ayam yang Sering Diremehkan

Redaksi Mezzala.id - Indonesia Ekspor Ceker Ayam ke China
Redaksi Mezzala.id - Indonesia Ekspor Ceker Ayam ke China

Di banyak dapur Indonesia, ceker ayam adalah bahan seblak atau kaldu yang harganya murah. Namun di pasar global, bagian ayam yang satu ini bernilai miliaran dolar dan Indonesia kini mengincarnya. Pemerintah tengah menjajaki peluang ekspor ceker ayam ke China, memanfaatkan surplus produksi unggas nasional untuk menembus salah satu pasar makanan paling lapar di dunia.

Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono menyampaikan hal itu dalam konferensi pers di Kantor Kementerian Pertanian, Jakarta Selatan, Senin (6/7/2026). Menurutnya, China adalah pasar besar dengan permintaan ceker yang tinggi, sementara produksi ayam dan telur dalam negeri sedang berlebih.

“China sebagai market yang besar di sana, salah satu komoditas dari ayam yang diminati itu adalah ceker ayam. Jadi selain orang Indonesia, ternyata orang China tuh dia makan banyak ceker ayam,” ujar Sudaryono.

IKLANRuang Iklan In-Artikel300×250 / responsif

Yang perlu digarisbawahi sejak awal: ini masih tahap penjajakan, bukan kontrak yang sudah diteken. Wamentan sendiri menyebutnya sebagai peluang yang “harus gol”. Tetapi justru di situ letak pelajaran bisnisnya melihat nilai besar pada sesuatu yang sering dianggap sisa.

Mengapa China Jadi Tujuan Utama Ekspor Ceker Ayam?

Bagi konsumen China, ceker ayam bukan makanan kelas dua. Ia disebut feng zhao atau “cakar phoenix”, hidangan populer mulai dari restoran dim sum hingga camilan kemasan. Skala permintaannya sulit ditandingi negara mana pun: China diperkirakan mengonsumsi sekitar 33,6 miliar potong ceker ayam per tahun, atau mendekati 80 persen konsumsi ceker dunia.

Angka itu menjelaskan kenapa ceker menjadi komoditas ekspor serius, bukan sekadar produk sampingan. Berikut gambaran pasarnya:

Fakta Pasar Ceker Ayam GlobalPerkiraan Angka
Konsumsi ceker China per tahun±33,6 miliar potong
Porsi China dari konsumsi ceker dunia±80%
Nilai pasar ceker global per tahun> US$1,5 miliar (di atas Rp24 triliun)
Porsi ceker dari total impor ayam Chinahingga ±75%
Pemasok ceker terbesar ke China (2024)Brasil (mengungguli Amerika Serikat)

Geser tabel ke samping untuk melihat seluruh kolom di layar HP. Angka bersifat perkiraan dari laporan perdagangan internasional; kurs rupiah sekitar Rp16.000 per dolar AS.

Artinya, pasar yang dibidik Indonesia bukan pasar kecil. Namun Indonesia juga datang belakangan: kursi pemasok utama sudah diduduki raksasa seperti Brasil dan Amerika Serikat, yang selama bertahun-tahun mengapalkan ratusan ribu ton ceker ke China setiap tahun.

Baca Juga: Kisah Nabi Musa dalam Islam, Kristen dan Yahudi

Surplus Unggas: Alasan di Balik Ekspor Ceker Ayam

Dorongan ekspor ini tidak lahir dari ruang hampa. Produksi ayam dan telur nasional sedang surplus, dan kelebihan pasokan itu menekan harga di tingkat peternak. Untuk menjaga harga tetap wajar tanpa merugikan peternak, pemerintah menempuh dua jalur: menetapkan harga acuan di dalam negeri dan mencari pasar baru di luar negeri agar kelebihan produksi terserap.

Ekspor unggas Indonesia sendiri sudah berjalan. Sepanjang tahun ini pemerintah mencatat pengapalan produk unggas daging ayam, telur konsumsi, hingga produk olahan ke sejumlah negara, dengan tujuan seperti Singapura, Jepang, dan Timor Leste. Wamentan menyebut produk unggas nasional kini menjangkau 11 negara, dan volume itulah yang ingin terus ditingkatkan. Ceker ke China adalah upaya memperlebar peta tersebut ke komoditas dan pasar baru sekaligus.

Bukan Hanya China: Arab Saudi dan Bisnis Halal

Selain China, pemerintah membidik Arab Saudi, terutama untuk memasok kebutuhan konsumsi selama musim umrah dan haji yang jumlah jemaahnya sangat besar.

“Kita sudah juga mengekspor ke 11 negara, dan kita akan terus tingkatkan kuantitasnya. Salah satunya market yang besar adalah Arab Saudi, kaitannya untuk umrah dan kebutuhan haji kita yang besar. Nah ini kita lagi jajaki, harus gol,” kata Sudaryono.

Di sinilah Indonesia punya kartu yang tidak dimiliki semua pesaing: rantai pasok halal. Untuk pasar Timur Tengah, jaminan bisnis halal dari negara berpenduduk Muslim terbesar dunia adalah nilai jual yang kuat. Perlu jujur dicatat, keunggulan ini relevan untuk Arab Saudi bukan untuk China, yang bersaing lebih pada harga, skala, dan konsistensi mutu.

Pelajaran Bisnis: Barang yang Diremehkan Memiliki Nilai Jual di Pasar

Inti inspirasi dari kabar ini bukan sekadar “China mau beli ceker”, melainkan cara pandang. Satu bagian ayam yang di satu tempat dianggap murah, di tempat lain bisa menjadi komoditas bernilai puluhan triliun rupiah. Perbedaannya bukan pada barangnya, melainkan pada siapa yang melihat pasarnya.

Prinsip ini berlaku jauh melampaui ceker. Ia adalah logika hilirisasi dan efisiensi: mengubah yang tersisa surplus produksi, produk sampingan, bagian yang jarang dilirik menjadi sumber pendapatan baru. Bagi peternak dan pelaku UMKM pangan, pesannya konkret: peta nilai sebuah produk bisa berubah drastis begitu ia keluar dari pasar yang selama ini dikenalnya.

Baca Juga: Negara Penghasil Ikan Laut Terbanyak di Dunia, Tapi?

Peluang Bisnis yang Besar, Pekerjaan Rumah Juga Besar

Antusiasme perlu diimbangi kejujuran. Rencana ini masih penjajakan, dan jalan menuju rak pasar China tidak singkat. Setidaknya ada tiga pekerjaan rumah:

  1. Akses pasar dan protokol kesehatan. China menerapkan persyaratan karantina dan keamanan pangan yang ketat untuk produk unggas, termasuk status bebas penyakit dan sertifikasi. Kesepakatan protokol antar-otoritas biasanya menjadi syarat sebelum ekspor benar-benar bisa mengalir.
  2. Persaingan yang sudah mapan. Brasil dan Amerika Serikat sudah lama menguasai pasokan ceker ke China dengan skala besar dan harga kompetitif. Indonesia harus menawarkan keunggulan yang jelas, entah dari sisi mutu, harga, atau kedekatan geografis.
  3. Skala dan konsistensi. Pasar sebesar China menuntut pasokan yang stabil dan seragam mutunya. Menyerap surplus musiman berbeda dengan memenuhi kontrak ekspor jangka panjang.

Dengan kata lain, potensinya nyata dan besar, tetapi keberhasilannya bergantung pada eksekusi — bukan sekadar pada tingginya minat pembeli.

Dari Surplus Menuju Nilai Tambah

Kabar penjajakan ekspor ceker ayam ke China adalah potret bagaimana persoalan (surplus yang menekan harga) bisa dibaca ulang sebagai peluang (permintaan besar di pasar lain). Jika penjajakan ini meminjam istilah Wamentan benar-benar “gol”, manfaatnya bukan cuma angka ekspor, melainkan harga yang lebih sehat di tingkat peternak dan satu contoh nyata bahwa nilai tambah kerap bersembunyi di tempat yang paling tidak kita duga.

Baca Juga: Jelajahi rubrik Inspirasi Bisnis di Mezzala,id

Catatan redaksi Mezzala.id: pernyataan dan kutipan Wakil Menteri Pertanian Sudaryono soal penjajakan ekspor ceker ayam ke China, surplus produksi unggas, bidikan pasar Arab Saudi, serta cakupan ekspor ke 11 negara dirujuk dari konferensi pers 6 Juli 2026 sebagaimana diberitakan Okezone, Tribunnews, Liputan6, Kompas.com, dan iNews. Data pasar ceker China (konsumsi ±33,6 miliar potong per tahun, ±80% konsumsi global, nilai pasar >US$1,5 miliar, Brasil sebagai pemasok utama 2024) dirujuk dari laporan perdagangan internasional termasuk Atlas Obscura, South China Morning Post, Poultry World, dan USAPEEC. Data ekspor unggas Indonesia dirujuk dari rilis Kementerian Pertanian. Rencana ekspor ceker ke China berstatus penjajakan per 7 Juli 2026 dan masih bergantung pada kesepakatan akses pasar; angka bersifat perkiraan dan dapat berubah.

Bagikan: WhatsApp X Facebook Telegram
✍️ Redaksi Mezzala.id
MEZZALA (mezzala.id), Media Digital Indonesia, Email: redaksi@mezzala.id
IKLANRuang Iklan Bawah970×90 / responsif
🏠Beranda 📰Terkini 🕌Cahaya Islam Premium