Redaksi Mezzala.id – Kisah Nabi Musa adalah salah satu narasi tokoh paling agung dalam sejarah iman umat Islam, Kristen dan Yahudi — kisah seorang bayi yang dihanyutkan ke sungai, dibesarkan di istana musuhnya sendiri, lalu kembali untuk meruntuhkan Fir’aun tirani yang paling angkuh. Namanya disebut lebih banyak daripada nabi mana pun dalam Al-Qur’an, dan kisahnya juga disebutkan dalam Alkitab. Namun di balik garis besar yang tampak serupa, ada perbedaan mendasar antara narasi Islam dan narasi Perjanjian Lama. Tulisan ini menelusuri hidup Nabi Musa dari perspektif Al-Qur’an, membandingkannya dengan versi Alkitab, lalu menimbang apa makna perbedaan kisah nabi musa dalam al-qur’an dan alkitab.
Bayangkan sebuah pagi di Mesir kuno. Jeritan terdengar dari rumah ke rumah. Para prajurit mendobrak pintu dan merenggut bayi-bayi laki-laki dari pelukan ibunya. “Jangan sentuh dia, dia baru berumur sehari!” para ibu memohon, tetapi tak seorang pun mendengar. Itu bukan perang; itu pembantaian yang diperintahkan seorang penguasa yang mengaku tuhan. Pertanyaannya: apa yang membuat Fir’aun sedemikian takut pada bayi yang bahkan belum bisa berjalan? Dan bagaimana Tuhan justru menyelamatkan bayi yang paling dicari itu dengan membawanya langsung ke dalam istana sang tiran? Bagaimana kisah musa vs fir’aun?
Cara membaca artikel Redaksi Mezzala.id ini:
Fakta — kutipan langsung dari teks Al-Qur’an dan Alkitab, disertai rujukan Quran Surah:ayat dan Alkitab pasal.
Tafsir — penafsiran ulama atau tradisi atas teks; sah sebagai pemahaman, tetapi bukan bunyi teks itu sendiri.
Dugaan — kaitan historis-arkeologis yang masih diperdebatkan para ahli; disajikan sebagai bahan renungan, bukan kepastian.
Baca Juga: Kisah Nabi Nuh dalam Al-Qur’an Islam dan Alkitab
Daftar Isi Kisah Nabi Musa dalam Al-Qur’an dan Alkitab: Perbedaan Kisah Nabi Musa dalam Narasi Agama Islam, Kristen dan Yahudi
Mimpi Fir’aun dan Perintah Pembantaian Bayi Laki-Laki
Menurut sejumlah riwayat dalam khazanah tafsir, semuanya bermula dari mimpi. Fir’aun bermimpi api besar datang dari arah Baitulmaqdis mengepung Mesir, membakar rumah dan penduduknya, tetapi tak menyentuh Bani Israil. Ia terbangun ketakutan, memanggil para peramal, dan mendengar tafsir yang membuatnya gemetar: akan lahir seorang anak dari kalangan Bani Israil yang kelak mengakhiri kekuasaannya. Keputusannya keji dan lugas yaitu bunuh setiap bayi laki-laki. Perlu dicatat, kisah mimpi ini bersumber dari riwayat tafsir, bukan dari teks Al-Qur’an secara langsung; Al-Qur’an sendiri menegaskan watak zalim Fir’aun dan sistem penindasannya:
“Sungguh, Fir’aun telah meninggikan diri di muka bumi dan memecah penduduknya menjadi golongan-golongan. Satu golongan di antara mereka ia tindas: ia sembelih anak-anak lelaki mereka dan ia biarkan hidup kaum perempuannya. Sungguh, ia termasuk golongan yang berbuat kerusakan.”Q.S. Al-Qasas: 4
Di sinilah muncul perbedaan pertama. Dalam Perjanjian Lama, alasan pembantaian bukanlah mimpi, melainkan kekhawatiran demografis-politis: Fir’aun takut Bani Israil berkembang biak terlalu banyak, lalu suatu hari berbalik memerangi Mesir.
“Berkatalah raja itu kepada rakyatnya: ‘Bangsa Israel itu sangat banyak dan lebih kuat dari kita. Marilah kita bertindak dengan bijaksana terhadap mereka, supaya jangan mereka bertambah banyak lagi… dan memerangi kita.'”Keluaran 1:9–10 (Terjemahan Baru, LAI)
Fir’aun adalah penguasa yang sombong, kejam, dan mengaku tuhan. Ia percaya membunuh bayi-bayi itu akan melindungi takhtanya. Yang tak ia sadari: untuk setiap jebakan yang ia pasang, Allah menyiapkan rencana yang jauh melampaui perhitungan siapa pun. Tuhan justru akan menuntun bayi yang paling dicari itu masuk ke jantung istana Fir’aun sendiri — dan menyuruh sang tiran membesarkannya dengan tangannya sendiri.
Baca Juga: HP Terbaik Harga Rp 15 Juta, Kualitas Setara Rp 25 Juta
Bayi di Sungai Nil: Ketika Musa Diasuh Oleh Istri Fir’aun
Di tengah teror itu, seorang ibu dalam tradisi disebut Yukabad menggendong bayinya dengan gemetar, takut giliran tiba. Lalu datanglah ilham dari Allah, sebuah petunjuk yang tampak berisiko namun membawa ketenangan:
“Dan Kami ilhamkan kepada ibu Musa: ‘Susuilah dia, dan bila engkau mengkhawatirkannya, hanyutkanlah dia ke sungai; janganlah takut dan jangan pula bersedih. Sungguh, Kami akan mengembalikannya kepadamu dan menjadikannya salah seorang utusan Kami.'”Q.S. Al-Qasas: 7
Bayangkan beratnya perintah itu: menaruh anakmu di dalam keranjang, lalu melepasnya ke arus sungai. Namun janji Allah menenangkan hatinya. Ia hanyutkan bayinya dan mengutus putrinya dalam tradisi disebut Maryam (Miriam) untuk mengikuti dari kejauhan. Dan Allah, yang menggerakkan setiap gelombang sesuai kehendak-Nya, membawa keranjang itu tepat ke istana Fir’aun. Yang menemukannya bukan sembarang orang, melainkan istri Fir’aun sendiri, yang dalam tradisi Islam dikenal sebagai Asiyah:
“Dan istri Fir’aun berkata: ‘Ia akan menjadi penyejuk hati bagiku dan bagimu. Jangan kalian bunuh dia; boleh jadi ia berguna bagi kita, atau kita jadikan ia anak.’ Sedang mereka tidak menyadari.”Q.S. Al-Qasas: 9
Di sinilah perbedaan kedua. Menurut Kitab Keluaran, yang menemukan dan mengangkat bayi itu bukan istri Fir’aun, melainkan putri Fir’aun yang sedang mandi di sungai (Keluaran 2:5–6). Sesudah itu, jalan cerita kembali bertemu: bayi Musa menolak menyusu pada perempuan mana pun, hingga sang kakak melangkah maju dan menawarkan seorang perempuan yang “bisa merawatnya” — yang tak lain adalah ibu kandung Musa sendiri. Maka janji Allah pun terwujud: sang ibu menyusui kembali anaknya, dan mereka dipertemukan tanpa seorang pun tahu siapa bayi itu sebenarnya.
“Maka Kami kembalikan dia kepada ibunya agar senang hatinya dan tidak bersedih, dan agar ia tahu bahwa janji Allah itu benar. Namun kebanyakan mereka tidak mengetahui.”Q.S. Al-Qasas: 13
Baca Juga: Resep Sambal Ijo Yang Nikmat
Musa Pergi Dari Mesir
Musa tumbuh di dalam istana dan menerima pendidikan elite kepemimpinan, kemiliteran, tata krama, hingga etika pribadi. Namun ia tak pernah menutup mata dari dunia di luar tembok istana. Ia menyaksikan sendiri penindasan yang dialami Bani Israil, dan pengalaman itu membentuk kepekaannya terhadap keadilan. Hingga suatu hari, sebuah insiden ketika ia tanpa sengaja menyebabkan kematian seorang Mesir saat membela seorang dari kaumnya memaksanya melarikan diri dari Mesir demi menyelamatkan nyawanya sendiri (Q.S. Al-Qasas: 15–21).
Ia menempuh perjalanan berat melintasi padang pasir hingga tiba di tanah Midian, menolong dua putri yang kesulitan mengambil air untuk ternak, lalu diundang ke rumah ayah mereka dan menetap di sana bertahun-tahun (Q.S. Al-Qasas: 22–28). Di sinilah muncul perbedaan lain yang menarik soal sosok sang mertua. Menurut sumber-sumber Islam, ia tinggal bersama dan berguru pada Nabi Syu’aib ‘alaihissalam meski, perlu dicatat, nama “Syu’aib” tidak disebut langsung dalam ayat kisah ini, melainkan datang dari riwayat tafsir. Perjanjian Lama menamai mertua Musa sebagai imam Midian, tetapi menariknya dengan dua nama berbeda: Rehuel (Reuel) pada Keluaran 2:18 dan Yitro pada Keluaran 3:1. Dalam kedua versi, Musa menikah, menggembalakan ternak, dan menempa diri masa tempaan yang mematangkannya sebelum panggilan besar itu datang.
Baca Juga: 5 Mitos Piala Dunia: Apakah Masih Berlaku di Piala Dunia 2026?
Catatan sumber · Tafsir
Identitas mertua Musa berbeda antar-tradisi. Dalam Islam ia umumnya diidentifikasi sebagai Nabi Syu’aib — tetapi lewat riwayat tafsir, bukan bunyi ayat. Alkitab sendiri menyebutnya dengan dua nama: Rehuel/Reuel (Kel. 2:18) dan Yitro (Kel. 3:1); sebagian tradisi Yahudi membacanya sebagai satu tokoh dengan dua nama atau gelar. Rujukan: Encyclopaedia Britannica, “Jethro”.
Musa Diangkat Allah Menjadi Rasul-Nya, Ditemani Harun dalam Misi
Malam itu gelap, dingin, dan sunyi. Dalam perjalanan bersama keluarganya, Musa melihat cahaya di kejauhan sebatang pohon yang terbakar, namun api itu tak melahapnya, angin tak memadamkannya, dan asapnya tak membubung. Ia mendekat, dan datanglah suara itu:
“Ketika ia sampai ke sana, ia dipanggil: ‘Wahai Musa! Sungguh, Akulah Tuhanmu. Maka lepaskanlah kedua terompahmu; sesungguhnya engkau berada di lembah suci, Tuwa. Dan Aku telah memilihmu, maka dengarkanlah apa yang diwahyukan. Sungguh, Akulah Allah; tiada tuhan selain Aku. Maka sembahlah Aku dan dirikanlah salat untuk mengingat-Ku.'”Q.S. Ta Ha: 11–14
Kedua kitab sepakat bahwa Musa menerima misinya lewat api misterius di semak menurut Perjanjian Lama (Keluaran 3:2), di pohon menurut Al-Qur’an. Di sana pula Musa diberi dua mukjizat: tongkat yang berubah menjadi ular, dan tangan yang bercahaya putih tanpa cacat ketika dikeluarkan dari balik ketiaknya (Q.S. Ta Ha: 17–22).
Namun di sini ada perbedaan tujuan yang halus namun penting. Menurut Al-Qur’an, seperti setiap rasul, Musa diutus untuk mengajak Fir’aun dan kaumnya beriman dan memperbaiki mereka; mukjizat adalah bukti untuk menyeru pada kebenaran. Sementara dalam Perjanjian Lama, penekanannya lebih pada membebaskan Bani Israil keluar dari Mesir — apakah Fir’aun beriman atau tidak, bukan itu inti persoalannya.
Menghadapi tugas seberat itu berdiri di depan penguasa yang mengaku tuhan Musa memanjatkan doa yang indah dan penuh kerendahan hati:
“Musa berkata: ‘Tuhanku, lapangkanlah dadaku dan mudahkanlah urusanku; lepaskanlah simpul dari lidahku agar mereka memahami perkataanku. Jadikanlah bagiku seorang penolong dari keluargaku, yaitu Harun, saudaraku. Teguhkanlah kekuatanku dengan dia, dan jadikanlah dia berbagi tugas denganku.'”Q.S. Ta Ha: 25–32
Allah mengabulkan permintaannya (Q.S. Ta Ha: 36): kekakuan lidahnya dihilangkan, dan saudaranya Harun dijadikan rasul pendamping. Dalam Perjanjian Lama, respons Musa terasa lebih berat hati. Ia berkata, “Ah, Tuhan, aku ini tidak pandai bicara… sebab aku berat mulut dan berat lidah” (Keluaran 4:10), bahkan memohon, “Ah, Tuhan, utuslah kiranya siapa saja yang patut Kauutus” (Keluaran 4:13). Dalam kedua versi, Harun diberikan sebagai penolong, dan misi pun dimulai.
Baca Juga: Kisah Nabi Musa: Nikah Tanpa Modal? Kontrak Kerja dengan Mertua sebagai Mahar
3 Perbedaan yang Juga Penting Diperhatikan
Sebelum sampai pada pertemuan Musa dengan Fir’aun, ada beberapa detail kecil yang justru sangat menentukan. Pertama, soal gelar penguasa. Kata “Fir’aun” (Pharaoh) berasal dari per-aa, yang berarti “istana/rumah besar”. Menurut catatan sejarah, kata ini baru lazim dipakai sebagai sebutan bagi penguasa sejak Kerajaan Baru, sekitar Dinasti ke-18 — periode yang mencakup masa Nabi Musa. Menariknya, ketika mengisahkan penguasa Mesir pada masa Nabi Yusuf (yang hidup beberapa abad sebelumnya), Al-Qur’an konsisten memakai kata al-Malik (“Sang Raja”), bukan “Fir’aun” (bandingkan Q.S. Yusuf: 43, 50, 54 dengan kisah Musa yang selalu menyebut “Fir’aun”). Sebaliknya, Perjanjian Lama menyebut penguasa di masa Yusuf pun sebagai “Firaun”. Ketepatan istilah sesuai zamannya ini adalah salah satu keindahan bahasa Al-Qur’an yang layak direnungkan.
Kedua, soal perintah “meminta” harta. Dalam Perjanjian Lama, sebelum keluar dari Mesir, Bani Israil diperintahkan meminta barang perak, emas, dan pakaian dari tetangga Mesir mereka, hingga disebut “kamu akan merampasi orang Mesir itu” (Keluaran 3:22; bandingkan 12:35–36). Bagi pembaca Muslim, ayat ini memunculkan pertanyaan mendasar: mungkinkah salah satu perintah awal kepada umat yang hendak dibebaskan justru berupa pengambilan harta orang lain? Hal serupa tidak ditemukan dalam narasi Al-Qur’an.
Ketiga, ada satu ayat Perjanjian Lama yang selalu memancing pertanyaan. Dikisahkan bahwa dalam perjalanan, “TUHAN bertemu dengan Musa dan berikhtiar untuk membunuhnya” (Keluaran 4:24). Penggambaran Tuhan yang hendak membunuh nabi yang baru saja diutus-Nya sulit dipahami dalam kerangka akidah Islam. Dalam Al-Qur’an, sesudah diangkat menjadi rasul, Musa justru diteguhkan, didukung, dan dikuatkan hatinya oleh Tuhannya tak ada penggambaran semacam itu.
Baca Juga: 9 Manfaat Ikan Laut untuk Kecerdasan dan Kesehatan
Musa Kembali ke Mesir: Musa vs Fir’aun
Bertahun-tahun setelah meninggalkan Mesir, Musa kembali kali ini bersama Harun, memasuki istana dengan pesan yang mengguncang. Kisah Musa vs Fir’aun, ketika Fir’aun bertanya siapa Tuhan yang ia serukan, jawaban Musa dalam Al-Qur’an bersifat universal — mencakup seluruh manusia, bukan satu bangsa:
“Musa berkata: ‘Wahai Fir’aun! Sungguh, aku seorang utusan dari Tuhan seluruh alam. Sudah sepatutnya aku tidak mengatakan sesuatu tentang Allah selain yang benar. Aku datang kepadamu membawa bukti nyata dari Tuhanmu; maka lepaskanlah Bani Israil pergi bersamaku.'”Q.S. Al-A’raf: 104–105
Bandingkan dengan Perjanjian Lama, yang memakai sebutan bernuansa kebangsaan: “Beginilah firman TUHAN, Allah Israel: Biarkanlah umat-Ku pergi…” dan Fir’aun menjawab dengan pongah, “Siapakah TUHAN itu yang harus kudengarkan firman-Nya…? Tidak kenal aku TUHAN itu” (Keluaran 5:1–2). Nama “Tuhan seluruh alam” dalam Al-Qur’an bersifat universal, sedangkan “Allah Israel” dalam Perjanjian Lama tampak khusus untuk satu bangsa.
Musa lalu membuktikan pesannya: tongkatnya berubah menjadi ular besar, dan tangannya bercahaya putih (Q.S. Al-A’raf: 107–108). Fir’aun, yang cerdik dan mahir memanipulasi khalayak, tak kehilangan akal. Ia mengalihkan perhatian dengan mengungkit jasa masa lalu “Bukankah kami telah mengasuhmu…?” (Q.S. Asy-Syu’ara: 18) lalu membalikkan tuduhan di hadapan para pembesarnya:
“Fir’aun berkata kepada para pembesar di sekelilingnya: ‘Sungguh, orang ini benar-benar penyihir yang pandai, yang hendak mengusir kalian dari negeri kalian dengan sihirnya. Maka apa yang kalian sarankan?'”Q.S. Asy-Syu’ara: 34–35
Padahal Musa sama sekali tak berniat mengusir orang Mesir dari tanah mereka; ia hanya meminta kebebasan bagi Bani Israil. Di titik ini, Al-Qur’an mengabadikan sebuah nama yang menarik perhatian para pengkaji Haman, orang kepercayaan Fir’aun yang diperintahkan mengurus pembangunan:
“Dan Fir’aun berkata: ‘Wahai para pembesar! Aku tidak tahu ada tuhan bagi kalian selain aku. Maka nyalakanlah api untukku, wahai Haman, untuk membakar tanah liat (menjadi bata), lalu dirikanlah untukku sebuah menara tinggi agar aku dapat menengok Tuhan Musa; dan sungguh, aku menganggapnya termasuk para pendusta.'”Q.S. Al-Qasas: 38
Dalam ayat itu, Haman digambarkan mengurus pembakaran bata dan pekerjaan konstruksi. Sejumlah penulis Muslim terutama lewat karya Maurice Bucaille mengaitkan nama ini dengan sebuah nama pada monumen Mesir kuno yang konon bergelar berkaitan dengan pekerja atau tambang batu. Klaim ini menarik, tetapi harus disampaikan dengan jujur: Egiptolog arus utama tidak menerima pengidentifikasian tersebut, dan pembacaan serta transliterasi nama hieroglifnya masih dipersoalkan. Karena itu kami menempatkannya sebagai dugaan yang layak direnungkan, bukan bukti yang sudah final.
Catatan sumber · Dugaan
Nama “Haman” jelas ada dalam Al-Qur’an (Q.S. Al-Qasas: 38). Yang diperdebatkan adalah pengaitannya dengan prasasti Mesir — klaim yang dipopulerkan Maurice Bucaille dan tidak diterima Egiptologi arus utama; identifikasi serta transliterasi namanya dipersoalkan. Rujukan: Wikipedia, “Maurice Bucaille”.
Baca Juga: Ini Film Pengacara Autis Yang Layak Anda Tonton
Musa vs Fir’aun: Pertarungan Musa dengan Para Penyihir Pilihan Fir’aun
Fir’aun menyusun rencana: mengumpulkan penyihir terbaik dari seluruh Mesir untuk mempermalukan Musa di depan publik. Tanpa ia sadari, ia justru menyiapkan panggung agar seluruh negeri menyaksikan mukjizat kenabian yang nyata. Ketika Musa diminta menentukan waktu, ia memilih hari besar:
“Musa berkata: ‘Perjanjian waktu kita adalah pada hari raya, dan hendaklah orang-orang dikumpulkan ketika matahari telah naik tinggi (waktu dhuha).'”Q.S. Ta Ha: 59
Al-Qur’an menyebutnya yaum az-zīnah “hari perhiasan” atau hari raya. Sebagian pengkaji menautkannya dengan festival nasional Mesir kuno seperti Festival Opet, ketika rumah, kuil, dan patung dihias dan diarak. Tautan historis semacam ini menarik untuk direnungkan, meski tetap bersifat penafsiran dan bukan kepastian arkeologis. Yang jelas dari teks: Musa menantang para penyihir tepat pada momen mereka merasa paling kuat dan disaksikan paling banyak mata.
Ketika para penyihir melemparkan tali dan tongkat mereka hingga tampak merayap seperti ular, sekejap Musa merasa gentar. Namun Allah meneguhkannya:
“Kami berfirman: ‘Jangan takut! Sungguh, engkaulah yang lebih unggul. Lemparkanlah apa yang ada di tangan kananmu; ia akan menelan segala yang mereka buat. Yang mereka buat itu hanyalah tipu daya penyihir, dan penyihir tak akan menang ke mana pun ia pergi.'”Q.S. Ta Ha: 68–69
Tongkat Musa menelan semua sihir mereka. Para penyihir justru karena ahli paling tahu membedakan mana tipuan dan mana yang nyata. Mereka pun bersujud dan menyatakan iman. Fir’aun murka dan mengancam menyalib serta memotong tangan-kaki mereka secara bersilang, tetapi iman telah mengubah mereka menjadi pemberani (Q.S. Ta Ha: 70–73). Pagi itu mereka datang sebagai penyihir upahan; sore itu mereka pergi sebagai orang beriman yang siap mati syahid.
Dalam versi Perjanjian Lama, yang melempar tongkat bukan Musa, melainkan Harun (Keluaran 7:10) padahal di awal kisah, mukjizat itu diberikan kepada Musa. Perjanjian Lama juga tidak menggambarkan kontes terbuka berskala nasional, tidak menyebut para penyihir bertobat, dan fokusnya bukan pada keselamatan iman, melainkan pada pembebasan Bani Israil dari Mesir.
Baca Juga: Basuki Ahok Konsisten Tolak Program MBG
Bencana dan Adzab dari Allah untuk Wilayah Kekuasaan Fir’aun
Fir’aun kian keras. Maka Allah menurunkan rangkaian musibah atas kaumnya sebagai peringatan:
“Maka Kami kirimkan kepada mereka topan, belalang, kutu, katak, dan darah sebagai tanda-tanda yang jelas dan berturut-turut. Namun mereka menyombongkan diri dan menjadi kaum yang berdosa.”Q.S. Al-A’raf: 133
Setiap kali bencana datang, Fir’aun berjanji tobat dan meminta Musa berdoa agar bencana diangkat; namun begitu keadaan membaik, ia kembali ingkar (Q.S. Al-A’raf: 134–135). Sebagian kalangan mengaitkan gambaran bencana ini dengan Papirus Ipuwer, dokumen Mesir kuno yang antara lain menyebut “sungai menjadi darah” dan negeri yang dilanda kekacauan. Namun konsensus Egiptolog masa kini membaca naskah itu sebagai sastra ratapan dari Kerajaan Tengah jauh lebih tua daripada perkiraan masa Keluaran yang menggambarkan keruntuhan sosial secara umum, bahkan diduga sebagai propaganda kerajaan; bukan catatan peristiwa Musa. Kami menyebutkannya sebagai bahan diskusi, bukan sebagai bukti sejarah yang pasti.
Catatan sumber · Dugaan
Papirus Ipuwer: salinan yang bertahan berasal dari Kerajaan Baru, tetapi teksnya diperkirakan disusun pada Kerajaan Tengah. Egiptolog umumnya menolak kaitannya dengan sepuluh tulah/Keluaran dan membacanya sebagai sastra ratapan. Rujukan: Wikipedia, “Ipuwer Papyrus”, dan World History Encyclopedia, “The Admonitions of Ipuwer”.
Baca Juga: Tren Abaya Fashion Muslimah 2026
Terbelahnya Laut dan Tobat Fir’aun yang Ditolak Allah
Tibalah waktunya keluar dari Mesir. Atas perintah Allah, Musa membawa Bani Israil pergi pada malam hari. Fir’aun mengejar dengan pasukannya hingga Bani Israil terjepit: di depan lautan, di belakang bala tentara. Ketika kaumnya panik, Musa menjawab dengan keyakinan penuh, “Sekali-kali tidak akan (tersusul); sesungguhnya Tuhanku bersamaku, Dia akan memberi petunjuk kepadaku” (Q.S. Asy-Syu’ara: 62). Lalu datang perintah itu:
“Lalu Kami wahyukan kepada Musa: ‘Pukullah laut itu dengan tongkatmu.’ Maka laut pun terbelah, dan setiap belahan bagai gunung yang besar.”Q.S. Asy-Syu’ara: 63
Bani Israil menyeberang; Fir’aun dan pasukannya menyusul masuk langsung ke dalam perangkap. Ketika air menutup dan maut di depan mata, barulah Fir’aun mengaku beriman. Namun pengakuan di ambang kematian itu tak lagi berguna:
“Apa, baru sekarang? Padahal sebelumnya engkau durhaka dan termasuk orang yang berbuat kerusakan! Maka pada hari ini Kami selamatkan jasadmu agar engkau menjadi tanda (pelajaran) bagi orang-orang sesudahmu. Sungguh, kebanyakan manusia lalai terhadap tanda-tanda Kami.”Q.S. Yunus: 91–92
Ayat “Kami selamatkan jasadmu” ini sering dikaitkan dengan tradisi pengawetan (mumifikasi) para penguasa Mesir, yang jasadnya kini dipamerkan di berbagai museum. Yang pasti dan berdiri kokoh secara tekstual adalah pesan ayatnya bahwa jasad sang penentang dijadikan tanda dan pelajaran bagi generasi sesudahnya. Adapun pengaitan spesifik dengan mumi tertentu (mis. Ramses II atau Merneptah, sebagaimana dipopulerkan Maurice Bucaille) tetap kontroversial: identitas “Fir’aun Musa” sendiri tak disepakati para ahli, dan mumi-mumi itu ditemukan di Lembah Para Raja, bukan di tepi laut. Al-Qur’an juga memakai ungkapan menohok tentang kehancuran mereka:
Catatan sumber · Fakta & Dugaan
Fakta: pesan Q.S. Yunus: 92 tentang jasad sebagai “tanda” berdiri sendiri secara tekstual. Dugaan: identifikasi mumi Fir’aun tertentu — klaim Maurice Bucaille — masih diperdebatkan; Bucaille bukan ahli mumi/Egiptolog, dan Fir’aun era Keluaran sendiri belum pasti. Rujukan: Wikipedia, “Maurice Bucaille”.
“Maka langit dan bumi pun tidak menangisi mereka, dan mereka tidak pula diberi penangguhan.”Q.S. Ad-Dukhan: 29
Sebagian pengkaji menautkan ungkapan ini dengan kepercayaan Mesir kuno bahwa saat seorang raja wafat, “langit menangis dan bumi bergetar” untuknya sehingga ayat ini terasa seperti bantahan langsung terhadap keyakinan itu. Sekali lagi, ini sebuah pembacaan yang menarik untuk direnungkan; kami sajikan sebagai tafsir, bukan sebagai klaim historis yang tertutup dari diskusi.
Baca Juga: Demam Matcha di Indonesia, Tren atau FOMO?
Taurat, Anak Lembu Emas, dan Sosok Samiri
Setelah selamat, Bani Israil memulai hidup baru di padang pasir. Allah memanggil Musa ke Gunung Sinai untuk menerima Taurat mulanya dijanjikan tiga puluh malam, lalu digenapkan menjadi empat puluh sebagai ujian (Q.S. Al-A’raf: 142). Ketika Musa tak kunjung kembali pada waktu yang mereka duga, sesuatu yang buruk muncul dari sebagian kaumnya: mereka menyembah patung anak lembu dari emas. Musa pulang membawa lembaran wahyu, tetapi mendapati kaumnya telah menyeleweng.
Di sinilah salah satu perbedaan paling tajam. Menurut Perjanjian Lama, yang membuat patung anak lembu emas itu adalah Harun sendiri (Keluaran 32:2–4, dan pembelaannya di 32:24). Bagi akidah Islam, mustahil seorang nabi yang justru diutus untuk melarang kesyirikan malah membuat berhala dan mengajak menyembahnya. Al-Qur’an menuturkan kisah yang berbeda: pembuat patung itu adalah seorang bernama Samiri:
“Allah berfirman: ‘Sungguh, Kami telah menguji kaummu sepeninggalmu, dan Samiri telah menyesatkan mereka.’ … Lalu Samiri mengeluarkan untuk mereka patung anak sapi bertubuh yang dapat melenguh, maka mereka berseru: ‘Inilah tuhan kalian dan tuhan Musa, tetapi Musa telah lupa.'”Q.S. Ta Ha: 85 & 88
Dengan menyebut Samiri, Al-Qur’an membersihkan nama Nabi Harun dari tuduhan yang mengerikan itu. Sebagian pengkaji juga menautkan nama “Samiri” dengan kelompok pendeta Mesir kuno (kerap dieja sem atau setem) yang berperan dalam ritual “Pembukaan Mulut” upacara yang menciptakan ilusi seolah patung atau orang mati dapat “berbicara”. Kaitan etimologis ini menarik, namun tetap bersifat spekulatif dan tidak disepakati semua ahli; kami menyebutkannya sebagai kemungkinan, bukan kepastian.
Kepemimpinan Musa atas Kaumnya: Perbedaan Nabi Musa dalam Al-Qur’an dan Alkitab
Berkat kesabaran Musa, Bani Israil sempat kembali ke jalan yang benar. Namun perjalanan mereka penuh keluh. Ketika Allah menurunkan makanan dari langit, mereka bosan dan meminta yang lain (Q.S. Al-Baqarah: 61). Ketika diperintahkan memasuki tanah yang dijanjikan dan menghadapi kaum yang zalim, mereka menolak dengan kalimat yang menyakitkan:
“Mereka berkata: ‘Wahai Musa! Kami tidak akan memasukinya selama mereka masih ada di dalamnya. Maka pergilah engkau bersama Tuhanmu dan berperanglah kalian berdua; kami akan duduk menanti di sini saja.'”Q.S. Al-Ma’idah: 24
Ketidaktaatan itu memuncak hingga Musa berkata, “Ya Tuhanku, aku hanya menguasai diriku sendiri dan saudaraku…” (Q.S. Al-Ma’idah: 25). Akibat pembangkangan itu, mereka mengembara empat puluh tahun di padang pasir. Menariknya, bandingkan sikap Musa dalam dua kitab: dalam Al-Qur’an, sebagai pemimpin, ia menghibur dan meneguhkan kaumnya; sedangkan dalam Perjanjian Lama, Musa sampai berbicara kepada Tuhan dengan nada menuntut “Tuhan, mengapakah Kauperlakukan umat ini begitu bengis? Mengapa pula aku yang Kauutus?” (Keluaran 5:22–23). Bagi pembaca Muslim, penggambaran seorang nabi yang seakan menyalahkan Tuhan terasa kurang selaras dengan kedewasaan spiritual yang melekat pada para utusan-Nya.
Ringkasan Perbedaan Kisah Nabi Musa Dalam Al-Qur’an dan Alkitab
| Aspek | Al-Qur’an | Alkitab (Perjanjian Lama) |
|---|---|---|
| Sebab pembantaian bayi | Riwayat: mimpi/ramalan akan lahir anak yang mengakhiri kekuasaan Fir’aun | Takut Bani Israil berkembang biak lalu memberontak (Kel. 1:9–10) |
| Penemu bayi Musa | Istri Fir’aun (tradisi: Asiyah) | Putri Fir’aun (Kel. 2:5) |
| Guru Musa di Midian | Banyak perbedaan pendapat, ada yang menyebut Nabi Syu’aib, Keturunan Syu’aib dan Kaum Syu’aib | Imam Yitro (Kel. 3:1) |
| Tujuan mukjizat | Mengajak Fir’aun dan kaumnya beriman | Meyakinkan agar Bani Israil dilepas keluar dari Mesir |
| Kontes penyihir | Terbuka & Nasional di hari raya festival Mesir; penyihir beriman lalu syahid | Di dalam istana; tak disebut penyihir bertobat |
| Pelempar tongkat | Musa | Harun (Kel. 7:10) |
| Pembuat anak lembu emas | Samiri (Q.S. Ta Ha: 85) | Nabi Harun (Kel. 32:2–4, 24) |
| Perintah “meminta” emas Mesir | Tidak ada | Ada — hingga disebut “merampasi” (Kel. 3:22; 12:35–36) |
| Nama Tuhan di hadapan Fir’aun | “Tuhan seluruh alam” (universal) | “TUHAN, Allah Israel” (Kel. 5:1) |
| Penggambaran Musa & Tuhan | Rasul yang teguh & sabar; Tuhan meneguhkannya | Musa menuntut Tuhan (Kel. 5:22–23); “TUHAN hendak membunuhnya” (Kel. 4:24) |
Perbandingan disusun dari Al-Qur’an (terjemahan ayat: alih bahasa redaksi dari terjemahan M. Pickthall, diselaraskan dengan teks Arab) dan Alkitab Terjemahan Baru (LAI), terutama Kitab Keluaran. Sebagian detail (mis. mimpi Fir’aun, nama Asiyah) bersumber dari riwayat/tafsir, bukan teks langsung.
Pelajaran: Mengapa Ada Perbedaan Kisah Nabi Musa dalam Islam, Kristen dan Yahudi?
Dari perbandingan di atas, satu benang merah terlihat. Dalam pandangan Islam, kisah para nabi seharusnya bebas dari kontradiksi maupun penggambaran yang tak layak. Penggambaran seorang nabi yang mabuk, membuat berhala, atau menuduh Tuhan berbuat “bengis” sebagaimana muncul dalam sejumlah bagian Perjanjian Lama dinilai tidak sejalan dengan kemuliaan yang seharusnya melekat pada utusan Allah. Sementara itu, Al-Qur’an menuturkan kisah yang sama secara utuh: tanpa kontradiksi dan tanpa mengurangi kehormatan para nabi maupun kesempurnaan Allah.
Dari sudut pandang inilah umat Islam meyakini bahwa Al-Qur’an hadir untuk meluruskan membersihkan kisah-kisah terdahulu dari keyakinan keliru yang bercampur di dalamnya coretan dan tulisan tangan manusia selama berabad-abad. Adapun sejumlah “titik temu” antara Al-Qur’an dan penemuan tentang Mesir kuno soal gelar penguasa, hari raya festival Mesir, jasad yang diawetkan, dan sebagainya adalah bahan renungan yang menarik. Sebagian kokoh secara tekstual, sebagian lain masih menjadi ruang diskusi para ahli; keduanya sama-sama mengundang kita untuk berpikir, bukan sekadar percaya tanpa menimbang.
Baca Juga: Apakah Distribusi Ikan Laut Indonesia Sudah Merata?
Mengapa Membahas Perbedaan Nabi Musa Dalam Al-Qur’an dan Alkitab Ini Penting untuk Kita?
Perbedaan dua narasi ini bukan sekadar soal “mana yang lebih benar”. Lebih dari itu, ia memperlihatkan cara dua tradisi besar membaca sejarah dan memuliakan para nabi. Membedakan mana fakta (bunyi teks), mana tafsir (penafsiran atasnya), dan mana dugaan (kaitan historis yang belum pasti) melatih kita membaca secara kritis tidak menelan mentah klaim “sudah pasti”, dari pihak mana pun, termasuk klaim yang seolah membela keyakinan kita sendiri.
Bagi pembaca Muslim, sikap ini justru memperkuat keimanan yang sadar: kita menghormati teks suci sebagai fakta, menghargai khazanah tafsir sebagai kekayaan pemahaman, dan bersikap rendah hati terhadap dugaan yang masih diperdebatkan ilmuwan. Dengan begitu, kekaguman pada Al-Qur’an tidak digantungkan pada klaim arkeologis yang rapuh yang bisa runtuh sewaktu-waktu melainkan pada pesannya yang kokoh: tauhid, keadilan, dan keteguhan menghadapi tirani.
Kisah Nabi Musa akhirnya menghadapkan kita pada satu cermin. Di mana posisi kita? Apakah seperti para penyihir yang tunduk begitu melihat kebenaran? Atau seperti Fir’aun, yang menolak meski bukti ada di depan matanya? Apakah seperti ibunda Musa yang begitu yakin pada janji Allah hingga sanggup melepas bayinya ke sungai dengan hati yang tenang? Kisah ini mengingatkan kita: setangguh apa pun tirani, dan segelap apa pun malam, mereka yang berpegang pada tali keimanan akan selalu menemukan jalan yang terbelah menuju keselamatan.
Baca Juga: Ribuan Karyawan Pabrik Mobil di Jawa Timur Terancam PHK
Sumber Primer
- Al-Qur’an al-Karim — Q.S. Al-Qasas: 3–4, 7–14, 15–21, 22–28, 38; Ta Ha: 11–14, 17–22, 25–36, 59, 68–73, 85, 88; Al-A’raf: 104–108, 133–135, 142; Asy-Syu’ara: 18, 34–35, 62–63; Yunus: 91–92; Ad-Dukhan: 29; Al-Ma’idah: 24–25; Al-Baqarah: 61; Yusuf: 43, 50, 54. (Terjemahan ayat = alih bahasa redaksi MEZZALA dari terjemahan Inggris M. Pickthall, diselaraskan dengan teks Arab; bukan Kemenag RI.)
- Alkitab, Terjemahan Baru (Lembaga Alkitab Indonesia) — Kitab Keluaran, khususnya 1:8–22; 2:1–22; 3:1–2, 21–22; 4:10–17, 24–26; 5:1–2, 22–23; 7:10; 12:35–36; 14:21–28; 32:1–4, 24.
Rujukan Sekunder & Bacaan Lanjut
- Tafsir klasik — mis. Tafsir Ibnu Katsir dan Qiṣaṣ al-Anbiyā’ (Ibnu Katsir): riwayat mimpi Fir’aun, sosok Asiyah, dan mertua Musa di Midian. (Riwayat tafsir; tidak semuanya bersumber langsung dari teks ayat.)
- Tafsiralquran.id, “Tafsir Surah Al-Qasas ayat 23–28” — kisah Musa di Madyan dan syarat kerja 8–10 tahun: tafsiralquran.id.
- Encyclopaedia Britannica, “Jethro” — mertua Musa disebut Rehuel/Reuel (Kel. 2:18) dan Yitro (Kel. 3:1): britannica.com.
- Wikipedia, “Ipuwer Papyrus”, dan World History Encyclopedia, “The Admonitions of Ipuwer” — penanggalan Kerajaan Tengah dan penolakan kaitan dengan Keluaran: en.wikipedia.org · worldhistory.org.
- Wikipedia, “Maurice Bucaille” — asal klaim tentang Haman dan jasad Fir’aun beserta kritik atasnya: en.wikipedia.org.
Catatan: kaitan nama “Haman” dengan monumen Mesir, penafsiran yaum az-zīnah sebagai festival Mesir kuno (mis. Opet), Papirus Ipuwer, etimologi “Samiri”, serta identifikasi mumi Fir’aun — disajikan sebagai dugaan yang masih diperdebatkan para Egiptolog, bukan bukti sejarah final.
Seluruh kutipan ayat Al-Qur’an dan Alkitab, serta rujukan sejarah, telah diverifikasi redaksi MEZZALA. Tulisan ini disajikan sebagai kajian perbandingan dari perspektif keislaman dan tidak dimaksudkan merendahkan pemeluk agama mana pun. Tanggung jawab editorial sepenuhnya pada redaksi.
